Final Warning From Minahasa

LANGKAH STRATEGIS MEMBANGUN NTB: 65


Bismillahirhmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Begitu selesai mengetik nama Minahasa di dalam 'text-box google search' maka tawaran paling atas yang muncul adalah berita dan gambar Bupati-bupati cantik. Ada baiknya kali ini kita tidak tertipu oleh pemandangan2 adem yang melenakan seperti itu. Mari kita cari sisi lain yang bisa mengingatkan dan mewaspadakan.
Adalah Koh Yang Xiaokang, seorang pengusaha tambang asal China yang berperan menjadi tangan sakti Pabrik2 peleburan besi baja di China untuk meraup sebanyak-banyaknya bahan-bahan mentah di seluruh muka bumi. Indonesia hanya salah satu incarannya.
Kegemparan mulai membahana di langit Minahasa pukul 06.00 pada hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2012. Pagi itu, seperti dikisahkan oleh Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) Sebuah kapal perang Republik Indonesia dengan nomor lambung 584 bernama "Kapal Republik Indonesia Nusa Utara" merapat di Pantai Kahuku, Pulau Bangka, Minahasa Utara, di mana masyarakat yang telah terbelah menjadi dua antara yang pro dan kontra terhadap perusahaan penambangan bijih besi milik Koh Yang Xiaokan bernama PT. Mikgro Metal Perdana.
Betapa gembiranya kelompok yang sudah lama menolak tambang itu karena pulau kecil dan cantik milik mereka yang berhadapan dengan Bunaken itu akan diselamatkan oleh para tentara yang mereka banggakan. Maria Pardede seorang ibu penduduk kampung itu berjingkrak-jingkrak menyambut kemenangannya.
Tapi apa yang terjadi kemudian adalah seperti sambaran petir di siang bolong, ketika pintu kapal dibuka yang keluar adalah alat-alat berat dan berbagai perlengkapan penambangan milik Koh Yang ... seperti bor tanah raksasa, rel-rel trem dan bucket-bucket srta bermacam jenis tangki dan seterusnya. Sejak saat itu terjadilah apa yang terjadi dan sampai saat ini...tak seorangpun mampu menghentikannya.
Alasan kerusakan lingkungan, ijin yang tidak jelas, penolakan rakyat, penolakan DPRD, penolakan Bupati dan Gubernur, kekalah di pengadilan mulai dari tingkat paling rendah sampai Kasasi sama sekali tidak ada yang berpihak dan membenarkan eksploitasi oleh PT. Mikgro Metal Perdana di tempat itu. Tetapi show must go on, sampai detik ini bijih-bijih besi masih lancar diangkut oleh kapal-kapal besar yang hilir mudik antar dua negara Indonesia - China. Bayangkan sejak tahun 2012 sampai sekarang!
Gagal dan tragis nasib Kaka Slank, peraih Tokoh Perubahan Republika 2015 sekaligus seniman pendukung Jokowi-JK yang melawan dengan menggandeng LSM_LSM hebat berikut ini:
AMMALTA — Aliansi Masyarakat Menolak Limbah Tambang
KMPA — Tunas Hijau Airmadidi
WALHI — Friends of the Earth Indonesia
LMND — Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi Sulut
change.org Indonesia
Greenpeace Indonesia
JATAM — Jaringan Advokasi Tambang
350 Indonesia
YLBHI — Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia
YSNM — Yayasan Suara Nurani Minaesa
KIARA — Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan
ICW — Indonesia Corruption Watch
Friends of Lembeh-Pulisan-Bangka e.V.
BCF — Bangka Conservation Fund

Bahwa China adalah Super Power baru, kita semua tahu, tetapi bukankah NKRI ini adalah negara berdaulat dan memiliki hukum yang harus ditegakkan? Change.org juga sudah melansir Petisi Kepada Presiden Joko Widodo untuk menutup pertambangan illegal itu. Tapi nggak nendang juga.
Saya membuka-buka kembali berita2 yang mengabarkan keberhasilan kita di NTB, dengan berbagai piala, medali dan sertifikat kejuaran yang telah kita raih, sambil juga melihat potho Iklan Majalah Tempo: Lombok-Sumbawa adalah satu dari tiga tujuan idaman utama manca negara.
Akhirnya, saya hanya bisa mengajukan sebuah pertanyaan dalam hati:
"Bagaimana kalau Mr. Yang dan kawan-kawannya tertarik untuk ikut bermain di sini?"
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Foto Hasanain Juaini.
Foto Hasanain Juaini.

Monumen Patriotik Untuk TKI


Bismillahirrahanirrahim
Assalamu'alikum Wr. Wb.

Di pagi yang masih buta,pukul 04.30, 2 Nopember 2016 datang sebuah berita:
"Badai laut ganas menerjang sebuah speed boat dan menghempaskannya ke sebuah bukit karang di perairan Tanjung Bemban antara Sumatra dan Malaysia. 25 dari 93 penumpangnya selamat. Sisanya belum diketahui. Mayoritas penumpangnya adalah TKI NTB".
Tentu ini bukan pertama dari berita sejenis. Setiap berita macam itu selalu menguras air mata sebab kita tahu dibalik berita duka itu, (sebelumnya) ada nestapa hidup pedesaan yang tidak terperi sehingga mencungkil mereka dari tempurung rumah derita untuk mengadu peruntungan DI LUAR NEGERI. (Setelahnya) masih akan mengekor duka-lara keluarga yang ditinggal mati; ada ibu tua yang sakit-sakitan, istri2 yang kehilangan pelindung, anak-anak yatim yang entah bagaimana nasib akan memperlakukan mereka. ...Kitapun menangis. Saya kira memang seharusnya begitu. Turut berduka cita, orang bilang.
Tetapi kali ini, mata saya menolak untuk menangis lagi. Mata bathinku berkata KITA HARUS MEMANDANG hal ini bukan sebagai tragedi. Ini unjuk rasa, ini unjuk digjaya, ini isyarat dan janji langit, yang sedang bercerita tentang KEHEBATAN MENTAL PANTANG MENYERAH KITA. BERTARUNG SAMPAI MATI. Benar-benar memang mati.
Saya punya ratusan anggota Majlis Taklim yang setiap dua tahun sekali pulang cuti (dua bulan) mengisinya dengan belajar agama. Di majlis mereka bertanya dan banyak bercerita bahwa DI SANA mereka berjuang untuk mencari modal uang untuk hidup keluarganya di NTB, mencari modal pengalaman, ilmu dan semangat untuk nanti membangun kampung halaman mereka. Sebab DI SINI yang tersedia baru "Katanya" saja.
Pernah diantara mereka dengan lantang menolak dihinakan dengan ungkapan PAHLAWAN DEVISA. Dia bilang:
"Kami pergi Lillahi ta'ala, untuk menjaga martabat keluarga dan kampung halaman agar tidak menjadi pengemis dan pencuri".
Saat-saat seperti itu, rasa malu mengaduk-aduk rasa dan fikiran saya. Keikhlasan, patriotisme dan semangat pantang menyerah adalah energi yang menggerakkan mereka. BUKAN UANG atau dengan begitu kerennya kita menamainya DEVISA dan VALUTA ASING.
Ketika air mata menolak untuk keluar, saya bertanya pada diri sendiri: lalu apa yang bisa kamu lakukan untuk bela pati dan sungkawa pada saudaramu itu?
Saya tidak menemukan jawaban apapun, karena mereka tidak memerlukan jawaban dengan kata-kata. Yang begitu sudah membosankan, tidak lucu bahkan terkesan kitalah yang memanfaatkan derita mereka untuk mengisi perut kita atau menaikkan prestise kita. Jawabannya NIHIL.
Tapi, tidak mungkin untuk tidak melakukan sesuatu. Maka saya usulkan kepada Pemerintah untuk membuat Monumen Abadi untuk mengenang patriotisme para penerjang badai itu. Biarkan kelak monumen itulah yang akan berkisah kepasa anak, cucu kita bahwa KALIAN DAHULU MEMILIKI NENEK MOYANG PETARUNG.
Ada seseorang mengirimi saya messenger: Dari mana anggarannya? Saya jawab pendek: Dasar otak anggaran. Kemauan bekerja saja belum kamu miliki, tapi kemauan menilep sudah muncul. Messenger itu tidak dibalas lagi.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

[Langkah Strategis Membangun NTB: 50]

PERADABAN ISRA' MIKRAJ


Bismillahirrahmanirahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ilmuwan besar kita Prof Adzumardi Azra dalam ceramah ilmiahnya PP. Nurul Haramain, baru-baru ini menceritakan hasil riset seorang rekan professornya Riaz Hassan, guru besar emeritus dari Flinders University, Australia bahwa dari segi ketaatan beribadah, masyarakat Indonesia menempati ranking tertinggi di dunia mengalahkan Saudi Arabia, Turki, Iran Malaysia dst... Termasuk ditandai dengan jumlah masjidnya.
Ada catatan fenomenal dari Prof Adzumardi Azra bahwa dalam hal bangunan Masjid yang menjadi salah satu alat paling ampuh membangunperadaban, beliau katakan " Indonesia menempati urutan teratas berkali-kali lipat; dan LOMBOK adalah permukaan bumi yang paling banyak masjidnya dan lebih mencengangkan para ilmuwan adalah masjid itu 99% dibangun oleh masyarakat sendiri.
Seorang peneliti sosial, Masdar Hilmy, alumnus Melbourne University membuat hirarki / varian kesalehan masyarakat dalam komposisi empat varian kesalehan berikut ini: 

(1) kesalehan individual positif, tapi kesalehan publik negatif;
(2) kesalehan individual negatif, tapi kesalehan publik positif; 
(3) kesalehan individual dan kesalehan publik sama-sama positif, dan 
(4) kesalehan individual dan kesalehan publik sama-sama negatif.

Jika kita mengacu kepada satu lagi realeas hasil risetyaitu yang dilakukan Scheherazade S Rehman dan Hossein Askari dari The George Washington University, Melalui artikel mereka, "How Islamic are Islamic Countries?"; di sini indonesia menempati ranking sangat rendah (140). Dengan demikian Kesalehan Masyarakat Lombok berada pada varian pertama yaitu: 
"SALEH INDIVIDUAL POSITIF NAMUN KESALEHAN PUBLIK NEGATIF".
Kini dengan modal SDA yang hebat, SDM yang NURUT dan capaian inprastruk yang memadai, tantangannya hanya satu:
Mengalirkan kesalehan individual ke ranah sosial melalui masjid-masjid yang sudah lebih dari cukup jumlahnya. Itulah yang kita impikan dengan nama: "Peradaban Isra' Mikraj dengan inti nukleusnya: MASJID".
Tujuannya sudah jelas, masyarakat tinggal menunggu komando untuk kita sama-sama bergegas ke sana. Ayyyo...!
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Hasanain Juaini

[Langkah Strategis Membangun NTB: 59]

KITA INI BANGSA YANG MEMALUKAN

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Judul di atas saya ambil dari seorang penyair Irak beraliran Syi'ah "Ahmad Nu’aimi" yang menyiarkan seuntai syair dengan judul tersebut, kemudian pada tanggal 27 Desember 2015 syair itu menjerumuskannya ke depan juru tembak yang akhirnya mengantarkannya ke dalam liang lahad.
Ahmad Nu’aimi membuka syairnya begini:
"" Fakta sejarah yang tak terlupakan, bahwa kita adalah bangsa yang tidak tahu malu.
Umar bin Khattab membebaskan Irak, Syiria dan Persia, 
Kita berbangga dan paling banyak menikmati hasilnya
Kitalah orang Syia'ah yang paling banyak menghina Umar.

Demikianlah .... satu demi satu prestasi orang-orang ( yang karena tidak mengikuti faham syiah lalu) dijuluki dengan Sunny dan setiap hari menjadi bulan-bulanan penistaan dan pengkafiran orang-orang Syia'ah. Sebaliknya berbagai kisah sejarah mengenaskan yang menimpa ummat Islam ternyata dibalik semua itu selalu ditemukan pengkhiatan kaum Syiah. Mulai dari Jatuhnya Bagdad, Granada sampai Palestina, ada pengkhianat Syiah di dalamnya. ""
Syair Ahmad Nu’aimi begitu menggugah kesadaran kita bangsa Indonesia yang senyatanya memiliki Sumber Daya Alam melimpah ruah, penduduk yang banyak serda modal kemerdekaan yang heroik dan membanggakan. Namun apa yang menjadi kenyataan di depan mata kita tidak dapat disimpulkan kecuali dengan seuntai kalimat "Kita adalah Bangsa Yang Memalukan".
Rsulullah s.a.w berpesan: "Awas, jangan sekali-kali duduk dipinggir jalan". Seorang sahabat meminta penjelasan: "Ya Rasulullah bagaimana kalau kami terpaksa duduk dipinggir jalan karena suatu kepentingan?"
Rasulullah menjawab: Boleh, tetapi jaga betul hak-hak jalan itu. Atau jangan pernah mengganggu para pengguna jalan.
Sekarang coba renungkan, kasus Nyongkolan dengan kecimol itu. Betapa memalukannya. Mungkin kita berfikir dengan alasan melaksanakan adat istiadat, tradisi dan budaya, kita dapat mengorbankan kepentingan orang lain. Sungguh tidak ada yang nampak dari kasus tersebut selain kebodohan kita, sifat primitive kita yang belum beranjak ke dunia peradaban di mana manusia seharusnya mendahulukan kepentingan umum, mengatur tingkah laku, mengukur maslahat tidaknya tindakan dengan keadaan.

Seorang wisatawan menulis SMS kepada saya:
Saya senang datang ke Lombok, laut dan pantai yang menawan; gunung dan ngarai yang mempesona, senyum manis para penduduknya... Sayang, ketika kami hendak pulang, kami terjebak macet sampai lima jam yang memaksa kami harus terunda naik pesawat ... dan ticket-pun hangus.
Saya membaca SMS-itu dan bergumam di dalam hati:
"Memang, kita ini bangsa yang memalukan"
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Hasanain Juaini

*Tentang Gubernur NTB [Presiden RI Masa Depan]*


Oleh: Dahlan Iskan
*Tuan Guru dgn Masa Depan yg Panjang*
Senin, 22 Februari 2016

Inilah gubernur yang berani mengkritik pers. Secara terbuka. Di puncak acara Hari Pers Nasional (HPN) pula. Di depan hampir semua tokoh pers se-Indonesia. Pun di depan Presiden Jokowi segala. Di Lombok. Tanggal 9 Februari lalu.
Inilah gubernur yang kalau mengkritik tidak membuat sasarannya terluka. Bahkan tertawa-tawa. Saking mengenanya dan lucunya.

”Yang akan saya ceritakan ini tidak terjadi di Indonesia,” kata sang gubernur. ”Ini di Mesir.”
Sang gubernur memang pernah bertahun-tahun belajar di Mesir, setelah menyelesaikan studynya di pesantren GONTOR. Di universitas paling hebat di sana: Al Azhar. Bukan hanya paling hebat, tapi juga salah satu yang tertua di dunia.

Dari Al Azhar pula, sang gubernur meraih gelar doktor. Untuk ilmu yang sangat sulit: tafsir Alquran. Inilah satu-satunya kepala pemerintahan di Indonesia yang hafal Alquran. Dengan artinya, dengan maknanya, dan dengan tafsirnya.
Mesir memang mirip dengan Indonesia. Di bidang politik dan persnya. Pernah lama diperintah secara otoriter. Lalu, terjadi reformasi. Bedanya: Demokrasi di Indonesia mengarah ke berhasil. Di Mesir masih sulit ditafsirkan.

”Di zaman otoriter dulu,” ujar sang gubernur di depan peserta puncak peringatan Hari Pers Nasional itu, ”Tidak ada orang yang percaya berita koran” Gubernur sepertinya ingin mengingatkan berita koran di Indonesia pada zaman Presiden Soeharto. Sama, tidak bisa dipercaya. Semua berita harus sesuai dengan kehendak penguasa.

”Satu-satunya berita yang masih bisa dipercaya hanyalah berita yang dimuat di halaman 10,” ujarnya. Di halaman 10 itulah, kata dia, dimuat iklan dukacita. Gerrrrr..!! Semua hadirin tertawa. Termasuk Presiden Jokowi. Tepuk tanganpun membahana.
Bagaimana setelah reformasi, ketika pers menjadi terlalu bebas? ”Masyarakat Mesir malah lebih tidak percaya” katanya. ”Semua berita memihak” tambahnya. ”Halaman 10pun tidak lagi dipercaya” guraunya.
Meski hadirin terbahak lebih lebar, sang gubernur masih perlu klarifikasi. ”Ini bukan di Indonesia lho, ini di Mesir,” katanya. Hadirinpun kian terpingkal2. Semua mafhum. Ini bukan di Mesir. Ini di Indonesia.

Saya mengenal banyak gubernur yang amat santun. Semua gubernur di Papua termasuk yang sangat santun. Yang dulu maupun sekarang. Tapi, gubernur yang baru mengkritik pers itu luar biasa santun. Itulah *Gubernur NTB: Tuan Guru Dr KH Zainul Majdi.* Lebih akrab disebut Tuan Guru Bajang.
Gelar Tuan Guru di depan namanya mencerminkan bahwa dirinya bukan orang biasa. Dia ulama besar. Tokoh agama paling terhormat di Lombok sejak dari kakeknya. Sang kakek punya nama selangit. Termasuk langit Arab: Tuan Guru Zainuddin Abdul Majid.
Di Makkah, sang kakek dihormati sebagai ulama besar. Buku-bukunya terbit dalam bahasa Arab. Banyak sekali. Di Mesir, juga di Lebanon. Menjadi pegangan bagi orang yang belajar agama di Makkah.
Sang kakek adalah pendiri organisasi keagamaan terbesar di Lombok: Nahdlatul Wathan (NW). Setengah penduduk Lombok adalah warga NW. Di Lombok tidak ada NU. NU-nya ya NW itu. Kini sang cuculah yang menjadi pimpinan puncak NW. Dengan ribuan madrasah di bawahnya.
Pada zaman demokrasi ini, dengan mudah Tuan Guru Bajang terpilih menjadi anggota DPR. Semula dari Partai Bulan Bintang. Lalu dari Partai Demokrat. Dengan mudah pula dia terpilih menjadi gubernur NTB. Dan terpilih lagi. Untuk periode kedua sekarang ini.
Selama karirnya itu, Tuan Guru Bajang memiliki track record yang komplit. Ulama sekaligus umara. Ahli agama, intelektual, legislator, birokrat dan sosok santun. Tutur bahasanya terstruktur. Pidatonya selalu berisi. Jalan pikirannya runut.
Kelebihan lain: masih muda, 43 tahun. Ganteng. Berkulit jernih. Wajah berseri. Murah senyum. Masa depannya masih panjang.
Pemahamannya pada rakyat bawah nyaris sempurna.
”Bapak Presiden,” katanya di forum tersebut, ”Saya mendengar pemerintah melalui Bulog akan membeli jagung impor 300.000 ton dgn harga Rp 3.000 per kg.
”Lalu, ini inti pemikirannya: Kalau saja pemerintah mau membeli jagung hasil petani NTB dgn harga Rp 3.000 per kg, alangkah sejahtera petani NTB. Selama ini, harga jagung petani di pusat produksi jagung Dompu, Sumbawa, NTB, hanya Rp 2.000 sampai Rp 2.500 saja per kg. Sang gubernur kelihatannya menguasai ilmu mantik. Pelajaran penting waktu saya bersekolah di madrasah dulu.
Pemahamannya akan pentingnya pariwisata juga tidak kalah.

*”Lombok ini memiliki apa yang dimiliki Bali, tapi Bali tidak memiliki apa yang dimiliki Lombok”* moto barunya. Memang segala adat Bali dipraktikkan oleh masyarakat Hindu yang tinggal di Lombok Barat.
Demikian juga pemahamannya tentang vitalnya infrastruktur. Dia membangun by pass di Lombok. Juga di Sumbawa. Dia rencanakan pula by pass baru jalur selatan. Kini sang gubernur lagi merancang berdirinya kota baru. Kota internasional di Lombok Utara.
Sebagai gubernur, Tuan Guru Bajang sangat mampu dan modern. Sebagai ulama, Tuan Guru Bajang sulit diungguli. Inikah sejarah baru.?? Lahirnya ulama dengan pemahaman Indonesia yang seutuhnya? Subhanallah.

--------------
Bila kita ingin masa depan Indonesia jadi lebih baik, maka bangsa ini harus dipimpin oleh sosok langka seperti DR. KH. Zainul Majdi ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa utk menjadi Presiden di negeri ini maka dia harus menjadi *MediaDarling* sayangnya Pemimpin berkualitas dan berkualifikasi seperti Beliau "mustahil" akan didukung oleh para taipan Media, apalagi dengan latar belakang keislamannya yg begitu kental.
Namun itu bukan alasan bagi kita untuk tidak berusaha *Menempatkan Orang Baik di tempat yang baik utk kebaikan bersama* dengan segala kemampuan yang kita miliki. Meski hanya dengan menyebarkan informasi dan postingan ini.

Lombok Sumbawa dua Sisi Mata Uang NTB.

LANGKAH STRATEGIS MEMBANGUN NTB: 58


Bismillahirrahmanirrahim

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebuah Pepatah Jerman mengatakan: Membagi dua seekor gajah besar tidak menghasilkan dua gajah kecil yang sama-sama hidup". Begitulah bangsa Indo Ariya itu menggambarkan pahit getir pemisahan mereka oleh Pemenang Perang Dunia II menjadi dua jerman yang saling membenci: Jerman Timur >< Jerman Barat. Pemecahan sebuah bangsa oleh musuhnya dengan tujuan yang jelas "agar tetap lemah dan tidak mampu bangkit kembali.
Bangsa Jerman akhirnya berhasil memperbaiki alur sejarah mereka, 3 Oktober 1990 - setelah 45 tahun terpecah, mereka bersatu kembali. Tangan-tangan rakyat Jermanlah yang meruntuhkan simbol pemecah belah itu "Tembok Berlin".
Sekalipun asal muasal bangsa Jerman sangat rancu, namun Gustav Kossinna, 1902 dan Herman Hirt, 1905 meletakkan dasar kebangsaan Jerman yang diikat oleh ke Arya-an mereka. Maksudnya jelas agar mereka besar, kuat dan puncaknya disematkan sebagai bangsa yang paling absah meneruskan kebesaran Romawi. Hitler bahkan menjadikan swastika (Lambang yang mengacu kepada simbol Brahmana) sebagai lambang pemersatu mereka. Itulah Algemene Ubber Alles.
Kembali kepada masyarakat NTB yang hanya terdiri dari beberapa suku bangsa (Bandingkan dengan Republik Rakyat Tiongkok terdiri dari 56 suku bangsa) yang secara sosiologis antropologi masing-masing memiliki previlage untuk mempertahankan eksistensi mereka. Namun semua kita memahami bahwa kwantitas bangsa-bangsa itu jika berhadapan dengan bangsa-bangsa lainnya sangat tidak memiliki prosfek yang menjanjikan. Oleh sebab itu masyarakat di kedua pulau utama ini, Lombok dan Sumbawa TELAH SECARA CERDIK MEMBANGUN ALIANSI dalam bentuk sebuah provinsi bernama NTB. Dan tidak meragukan lagi fondasi dari langkah bijak itu adalah kesamaan nilai-pembentuk dari visi dan missi kehidupan pribadi dan sosial mereka yaitu Keyakinan Islam.
Masyarakat harus benar-benar tetap mengingat bahwa sekalipun NTB, secara resmi mendapatkan status sebagai provinsi berawal dari ditetapkannya Undang-undang Nomor 64 Tahun 1958 Tanggal 14 Agustus 1958 tentang Pembentukan Daerah-daerah Swatantra Tingkat I Bali, NTB dan NTT, namun yang diresmikan sebagai hari lahirnya NTB adalah tanggal 17 Desember 1958, itulah hari ketika Pemerintah Daerah Lombok dan Sumbawa di likuidasi. itulah bentuk ikrar penyatuan dari para cerdik pandai kita yang terbebas dari kepentingan yang mengkerdilkan.
Jelas ada problem yang mengancam masa depan (kejayaan) masyarakat NTB, itulah kepentingan pragmatis sesaat, hasrat politis. Hasrat ini jika dibumbui dengan berbagai kasus-kasus sektarian, proses dan dinamika keseharian serta alasan-alasan klasik demokrasi, akan dengan serta merta menggelinding menjadi issu yang jika tetap dipaksakan maka yang akan terjadi adalah "Bagai mata uang yang kedua sisinya dipisahkan sehingga kehilangan kurs dan nilai intrinsiknya".
Ada satu fakta empiris yang bisa menjamin prosfek kesatuan NTB yaitu bukti bahwa penduduk Lombok yang migrasi ke Pulau sumbawa menjadi lebih rajin, tekun dan eksis sebagaimana penduduk Sumbawa mengalami hal yang sama kalau migrasi ke Lombok. Inilah pertautan serasi dan saling menguatkan yang bisa di diversifikasi dalam sisi lain kehidupan, individu maupun sosial.

Wallahu Aklam Bissawab

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

WISATA HALAL

WISATA HALAL

[Takut Bayangan Sendiri]
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Saya, sama saja dengan anda orang NTB yang fikiran dan perasaannya terliputi oleh tradisi dan budaya kita sendiri. Bagaimana merasa tidak beda-beda amat.
Tentang wisata halal, sayapun pernah membayangkan bahwa kelak akan datang tourist arab seperti yang datang ke Pucket, Bangkok atau Genting Island, Malaysia ... mereka sekumpulan anak-anak muda atau perjaka lapuk yang kesulitan menikah karena berbagai hal. Dan tentu saja kasus Puncak, Jawa Barat menjadi pembenar rasa semacam itu.
Ketika Semeton Paox Iben menurunkan laporan perjalanannya ke Oman, saya mendapat angin baru, Paox bilang bahwa segmen seperti tengarai di atas memang ada dan merekalah para arab-arab kere yang sesungguhnya juga seperti para kere di negeri kita sendiri. Singkat kata memang ada sekelompok kecil orang yang hidupnya memang tidak jauh dari urusan perut lapar mereka. Kalau ada sedikit beranjak ya tidak jauh dari areal itu.
Beberapa bulan terakhir ini saya dikejutkan dengan beberapa tourist muslim manca negara yang langsung mengontak saya dan minta untuk disiapkah guide yang berbahasa Inggris dan Arab:
1. Abu Abdullah (Uni Emirat) dengan keluarganya datang dan minta diantarkan ke sebuah masjid kampung. Di sana keluarga itu mengumpulkan ratusan orang-orang miskin, membagikan uang masing2 Rp. 100,000.- lalu meinta marbot untuk mengantarkannya ke Toko karfet dan penuhlah masjid itu dengan sajadah baru dan mahal. Keesokan harinya mereka minta diantar menikmati keindahan Senggigi, menginap di Gili Air, menaiki puncak sembalun, mengelilingi pantai Kuta dan Pantai Pink, lalu pamit dengan isak tangis kerinduan. Kata Abu Abdullah: "Saya akan merindukan azan-azan subuh yang saling bersahutan dan lantunan shalawat bocah2 yang fasih itu".
Awal Mei kemarin, Abu Abdullah mengirim 34 juta untuk pembangunan toilet di masjid kampung itu dan Awal Juni berikutnya mengirim 20 juta rupiah untuk berbuka puasa para santri. Tak lupa menulis melalui WA: Kami akan datang lagi dengan jumlah keluarga lebih banyak.
2. Awal tahun 2014, sahabat saya dari Malaysia mengirim putranya untuk rekreasi di Lombok, katanya dia percaya anaknya akan baik2 saja selama sebulan di Lombok sebab dia sendiri pernah ke mari. Selama di Lombok pemuda itu menghabiskan semua objek wisata Lombok. Setelah kembali ke Malaysia keluarga itu mengundang puluhan santri untuk berwisata di Malaysia, Thailand dan Singapura. Kelak mereka berencana untuk beramai-ramai wisata ke Lombok dengan ratusan pemuda.
Tidak lama setelah itu saya mendapat khabar bahwa sering kali Pesawat Air Asia Kuala Lumpur - BIL justru berisi kebanyakan wisatawan Malaysia. Komentar mereka yang seragam adalah: Suasana persaudaraan di Lombok adalah suasana yang justru di Malaysia masih di dalam mimpi.
3. Juli 2015, Ramon Magsaysay Foundation, Philippina mengontak saya dan mengatakan bahwa mereka merindukan untuk mengumpulkan semua awardee yang masih hidup di seluruh Asia untuk ber-Reuni di Lombok.
4. Mei 2016 yang lalu, sahabat Alan Prouty (Mantas Executive Asian Development Bank) berkunjung kerumah dan mengajukan usul agar saya menggagas Eko-Wisata dimana para pencinta lingkungan se dunia saban hari bisa bertemu dan dari sini semangat menanam pohon dilambungkan ke seluruh dunia. Lombok adalah tempat yang tepat untuk itu.
5. Akhir Mei 2016, sahabat kita yang asli Lombok Abdurrahman Sheckbubakar diutus oleh seorang muhsinin (dermawan) Arab yang akan mendukung seluruh pendanaan jika di Lombok masyarakat mau membangun sebuah kawasan persaudaraan dunia di mana simbol-simbol negara seluruh dunia diadakan sehingga setiap yang memasukinya seakan merasa keliling dunia. Ketika saya bertanya apa alasannya memilih Lombok sebagai tempat seperti itu. Jawabnya: Lombok adalah masyarakat yang paling pantas memiliki tempat semacam itu, karena mereka pemilik senyum paling ramah di dunia.
6. Tiga orang tourist, gadis Spanyol datang ke Pesantren Nurul Haramain yang ketika saya tanya mengapa memilih Indonesia? Mereka serentak berkata bahwa saya merasa save untuk tinggal berbulan-bulan di Lombok ini setelah NTB memproklamirkan wisata halal. Apa yang kami pahami dengan wisata halal adalah kami akan diperlakukan disini dengan "Nilai-nilai islam yang kami kaji di Perguruan tinggi"
Saya mencoba menyelami psikologis putri-putri Spanyol itu, perkiraan saya bahwa mereka mempelajari sejarah Islam selama menguasai Spanyol yang mereka temukan sebagai sistem hidup yang saling menghargai.
Kini saya baru faham ternyata kekhawatiran2 adalah pengaruh dari "Takut Bayangan Yang Akut" sebagai akibat langsung langsung sempitnya wawasan, lemahnya ilmu serta kurangnya penghargaan terhadap milik kita sendiri.
Ya Allah kuatkan dan teguhkanlah optimisme kami. Sungguh yang kami inginkan adalah Pariwisata yang menjadi ajang pembuktikan bahwa kami adalah masyarakat pengemban Rahmatan Lil Alamin. Bukan makhluk-makhluk serakah yang hanya MENYASAR KANTONG PARA TAMU.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


PROFIL MADANI SUPER CAMP

Catatan dari ‘Kelas Alam’ Kampung Madani
Madani Super-Camp dari Nurul Haramain untuk NTB
Madani Super-Camp adalah sebuah tempat yang sengaja di buat Pondok Pesantren Nurul Haramain, khusus untuk pembelajaran kursus-kursus bagi para santri. Program ini di sebut Super-Camp atau Super Training Camp, di mana para Santri yang masuk didalamnya hanya fokus mempelajari satu mata pelajaran saja di dalam senggang waktu yang telah ditentukan.
Tujuan khusus dari Madani Super Camp adalah menyamakan kemampuan seluruh santri dalam satu mata pelajaran tertentu yang di pilih, sehingga nantinya para Santri yang di kirim kembali ke Pondok memiliki persepsi yang sama terhadap mata pelajaran tersebut. Hal ini akan memudahkan baik bagi guru atau para santri dalam kegiatan belajar-mengajarnya.
Madani Super Camp merupakan salah satu perwujudan dari ‘Efisiensi Pendidikan’ yang diberikan Ponpes Nurul Haramain yang diperuntukkan bagi santri pada khususnya dan bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Pengkhususuan pembelajaran seperti ini merupakan cara paling efektif dalam penguasaan sebuah materi ajar, selain cakupan materi yang diajarkan lebih luas, santri juga memiliki waktu lebih banyak untuk berkonsentrasi pada sebuah mata pelajaran, sehingga akan sangat mudah menguasai mata pelajarannya.      
Adapun Partisipan dari kegiatan ini khususnya ditujukan bagi santri dan santriwati Nurul Haramain dengan cara pengiriman bergilir, dan diproyeksikan bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat.
Madani Super Camp terletak di Hutan Konservasi milik Pondok Pesantren Nurul Haramain, tepatnya di Kampung Madani, dusun Lebah Suren, desa Sedau, Kecamatan Narmada, kabupaten Lombok Barat. Nusa Tenggara Barat. Program telah di buka sejak bulan September 2013, dan akan dilaksanakan secara terus-menerus. Saat ini, Program yang sedang berjalan adalah Super English Course, dan akan segera membuka program kursus yang lainnya, seperti: Madani Super Kids Camp, Madani Super Arabic Course (MASC), Qur’an Spiritual Quantitative (QSQ), Writing, Fiqih, Computer, dan lain-lain.
Adapun pelaksanaan Madani Super Camp dengan cara karantina ‘ala Pesantren. Santri yang ingin belajar di Super Camp diwajibkan untuk tinggal di Camp yang telah disediakan. Hal ini dilakukan agar kontrol terhadap santri mudah dilakukan, selain itu, para santri juga dapat membaur dengan berbagai orang dari berbagai daerah, sehingga mereka tahu bagaimana cara berkehidupan sosial yang baik.    

AHOK MULAI MENYEDIHKAN!!

 


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Biasanya saya begitu bersemangat kalau memirsa Ahok di TV lagi diwawancarai. Wajahnya yang ganteng, kulitnya yang putih mulus dan ledakan suara yang didorong oleh keberanian dan "rasa" benarnya membuatnya seperti meledak-ledak. Memukau.

Tadi malam, ketika wartawati Metro TV mewawancarainya terkait keinginannya membangun kembali lokalisasi pelacuran di DKI, kontan situasinya menjadi berbalik 180 derajat. Dia memang masih gagah berani tetapi sudah mulai tidak bener. Saya tahu bahwa wawancara itu didasari atas penolakan dia sebelumnya yang menyanggah bahwa Komplek Lokasari adalah lokalisasi pelacuran terselubung, saat itu dia berkata:

"Sekarang mana bukti lokalisasi? Nggak ada lokalisasi di sana. Kalau terselubung, tempat pijat juga banyak terselubung. Hotel-hotel juga banyak terselubung. Mau geser gimana, nggak ada buktinya," tegas dia.

Rupanya saat ini Ahok sudah tidak bisa berkelit akan kenyataan itu, maka daripada ribet-ribet mencari alasan, lebih baik diresmikan saja sekalian. Berarti di sudah mulai berbohong. Sayangnya dia masih gagah dan berani sehingga pemirsa cenderung masih "bisa tertipu".

Wartawati: "Apa alasan Bapak mau melokalisasi pelacuran, padahal Pemda lain seperti Wali Kota Surabaya justru berani menutup lokalisasi paling besar se Asia Tenggara 'DOLLY'?".

Ahok [kurang lebih]: " Pelacuran itu sejak zaman Nabi sudah ada dan tidak bisa dibasmi. Kita jangan munafiklah. Pelacuran menyebar kemana-kemana karena tidak dilokalisasi. Dengan dilokalisasi kita menjadi tahu dimana para pelacur itu berada sehingga kita bisa memantau mereka dan dengan mudah mengatur mereka dan dapat mencegah penyebaran aids dengan lebih mudah . . . .bla bla bla ". Itulah intinya.

Ahok yang selama ini selalu menjaga mulutnya untuk tidak menista Agama, sudah tertipu dengan kegagah beraniannya. Dia kira sifat itu bisa menutupi kejahilannya [jahil tidak sama dengan bodoh]. Nabi, tidak melegalkan pelacuran apalagi membiayai lokalisasinya, apalagi mengambil manfaat dari pajak-pajaknya. Secara hukum, polisi boleh menangkap orang [termasuk Ahok] yang mengatakan "ada pelacuran terselubung di tengah masyarakat", lalu memasukkannya ke dalam sel tahanan dengan tuduhan memfitnah. Dia tidak boleh dibebaskan sampai dia bisa menunjukkan buktinya.

Melokalisasi perbuatan haram untuk menghindari jatuh munafik kok malah justru menjerumuskan kepada kekafiran. Ini sebentuk logika yang menyedihkan.

Kerajaan Belanda, mantan penjajah kita itu adalah salah satu negara yang melegalkan Narkoba dan melokalisasinya. Pasti Ahok belajar dari sana, karena alasannya sama: (1) Tidak mungkin ditiadakan, (2) agar mudah memantau pemadatnya sehingga (3) memudahkan mengatur dan menyembuhkannya. Menyembuhkan pecandu narkoba dan pelacuran, semua orang tahu, bagai menegakkan benang basah. Omong-kosongnya yang pasti lebih banyak dari pada isinya.

Fakta yang paling meyakinkan terkait manfaat lokalisasi pelacuran adalah duitnya, selain tentu saja buit-nya*. Kita Masih ingat ketika mantan Gubernur DKI yang sama gagah dan beraninya dengan Ahok, Ali Sadikin yang dengan suara nyinyir menghardik Prof Hamka yang menolak lokalisasi pelacuran Bina Ria, Ancol dan Kramat Tunggak. Ali Sadikin berteriak sombong berkata: "Kalau Hamka tidak setuju lokalisasi pelacuran itu, maka jangan jalan diatas aspal-aspal Jakarta karena saya membangun jalan itu dengan pajak judi dan pelacuran". Inlander yang gagah berani namun mentalnya masih terjajah.

Sekarang, Belanda dan negara-negara Erofa yang berlogika 'tersesat' seperti itu harus kembali menelan pil beracun karena harus melegalkan Kawin sejenis, karena jumlah homo dan lesbi tidak lagi bisa ditutup tutupi. Dari pada munafik membiarkan kawin sesama jenis merebak dan terselubung, mendingan dilegalkan saja. Itulah jahiliyah. Dengan logika demikian itulah perjudian, minuman keras akhirnya juga dilegalkan dan dilokalisasi dengan HANYA SATU manfaat yang nyata: UANG.

Suatu hari, Al-Imam As-Syafi'i ditanya:

"Mengapa lima orang pelacur hukumannya berbeda?
Satu orang dibunuh, yang kedua dirajam, yang ketiga dicambuk, yang keempat hanya ajari dan dididik, sedangkan yang ke lima dibebaskan?

Jawabnya:
Yang pertama dibunuh karena dia menghalalkan yang haram, dia telah kafir, murtad;
Yang kedua dirajam karena telah berzina dan tahu haram padahal dia punya istri
Yang ketiga dia berzina, tahu haram, balig dan berakal tetapi belum punya istri
Yang ke empat berzina tetapi belum balig, dan
Yang ke lima karena dia orang gila.

Jadi, jika Ahok hendak melegalkan dan melokalisasi pelacuran dus juga perjudian selanjutnya akan menyusul perkawinan homo dan lesbi dan akan berketerusan dengan legalisasi dan lokalisasi narkoba ... hukuman kategori pertama cocok untuk dia. kalau masih mau menghindarinya maka dia boleh memilih kategori yang ke lima.

Seandainya, tulisan ini entah dengan cara bagaimana bisa sampai pada Ahok, maka saya masih menyisakan harapan karena saya dengar dengar Ahok itu orangnya terbuka dan mau belajar, begini: Pak Ahok yth. Sadarilah bahwa anda mewakili etnis China yang berjumlah lebih dari lima juta orang di Indonesia, jika anda bisa menunjukkan kebijakan yang tidak menyerempet perasaan mayoritas, maka stigma buruk yang selama ini memasung gerakan asimilasi suku dan ras di Pertiwi ini lama-lama akan berkurang. Tetapi jika anda berkeras dengan sikap Sok gagah dan berani itu, maka betapa anda telah akan memperdalam rasa curiga mayoritas terhadap minoritas, khususnya etnis China. Sadarilah dan berhati-hatilah sebab anda Wagub yang tidak biasa. Semoga bermanfaat. amiin

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 8 Desember 2013

*BUIT = dalam Bahasa Sasak artinya pantat. [maaf]

PILPRES dan WORLD CUP 2014 TAK ADA AKAR ROTAN-PUN JADI

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebuah Sukses Story diperlukan Bangsa yang sedang terpuruk ini. Rakyat sudah bosan terpuruk, birokrasi sudah jenuh disumpah serapah. Berdiam diri seprti menunggu godot sudah tidak zamannya lagi. Modal SDA sudah tidak meragukan, tinggal bagaimana SDMnya.

Ada yang berpendapat rakyatlah yang belum siap untuk maju, sekalipun Hugo Chaves jadi presiden di sini, tetap saja akan begini. Ibarat lokomotif roll rois tapi gerbongnya keberatan. Tapi pendapat lain justru meyakini bahwa yang diperlukan adalah pemimpin dengan segudang kriteria, rakyat sudah siap siaga untuk ngacir, dengan kecepatan super-sonic sekalipun.

Persaingannya nyaris bagaikan mendaki puncak Everes di Tibet sana yang angker karena udara tipis dan jalannya licin berliku.

Apa boleh buat, karena ketatnya persaingan, maka kwalifikasi demi kwalifikasi pemimpin masa depan itupun terus menerus bertambah, mulai dari kemampuan menerbitkan auto / biografi agar terbukti secara empiris kelayakannya, kemudian sukses berekonomi atau 'sudah kaya dari sononya' agar kelak tidak dikhawatirkan memperkaya diri sendiri; Perlu juga ada nuansa kesalehan agar tidak bersinggungan dengan mayoritas atau bila perlu kafir sekalian supaya lebih mencuat kemampuan adaptatif dan kepluralismeannya; Biasa hidup sederhana juga perlu, maka tampil di TV dengan makan diwarteg adalah trik yang cukup ‘nendang’. Bahwa presiden memiliki koky dan ajudan pengecap makanan adalah urusan rahasia, masyarakat tidak banyak tahu itu.

Sedari pagi sekali, kandidat-kandidat muda potensial namun bermodal cekak didorong keujung labirin sehingga setiap saat gampang dijorokin. Ada pula yang dimasukkan kedalam sebuah system agar duduk, diam anteng dibalik ketiak boss. Bikin gerakan mencurigakan? . . .pluuuung …masuk kotak.

Satu demi satu calon kandidat yang sudah lama membangun image, mulai dari mimpi sampai geliat-geliat kecil, beguguran karena tidak mampu menggapai kriteria itu atau kehabisan nafas sebelum bertanding. Betul, bahwa mendaki puncak itu harus menyeret-nyeret kaki, menapak selangkah demi selangkah, tetapi untuk turun memerlukan energi berlipat ganda agar tidak disedot oleh grafitasi kedasar jurang yang mengerikan.

Kita masih mengenang bagaimana Allahu Yarhamuhu Presiden Gus Dur menebak dengan tepat kemenangan Italia atas Jerman Barat pada Piala Dunia 1982 di Barselona. Bahkan top skorernya sudah diramal "Roberto baggio". Lalu pada tahun 1999 Gus Dur malah terpilih menjadi Presiden. Entah apa korelasinya, pokoknya dipandang perlu seorang calon presiden menguasai urusan sepak bola. Sungguh kebetulan yang luar biasa kalau perhelatan Pilpres kita 2014 berdekatan dengan Piala Dunia Brazil. Sebelum Brazuka menggelinding di Maracana, di sini bola liar lebih dahulu dikick-off. Siapa tahu saat ini para kandidat, bakal calon sedang bersiap-siap menghafal peristilahan bola dan daftar nama pemain top dengan masing-masing keahliannya, cewek pasangannya komplit dengan barisan Toon Arminya.

Gelegar kampanye para bakal calon yang mempersonifikasi diri sebagai calon pemimpin kuat, jujur dan berani sudah tak menyisakan ruang rehat untuk sedikit mengaso dari hiruk pikuk iklan-iklan capres.

Sportifitas adalah prasyarat dalam sebuah kompetisi yang fair dan salah satu atlit yang sangat sportif adalah Ade Rai, seorang atlet bina raga dengan vitalitas tidak meragukan. Itu dulu. Tapi sekarang Ade cukup arif untuk memahami bahwa eranya sudah berlalu; Ade telah dengan damai beranjak menjadi kharisma yang Menyegankan. Chris John mencoba melawan usianya. Itu sebentuk penyakit George Formanian dan Oscar de La Hoyaiyan yang hanya mengingat satu kata "Dragon" tapi melupakan kata 'old'.

OK Christ ... semoga fakta bisa menjadi pelajaran berharga. Tak lupa terima kasih atas prestasi anda yang telah membanggakan kita semua.

LL2 [baca: double el kwadrat] alias lo lagi lo lagi, sebuah ungkapan kebosanan masyarakat sudah tidak pernah lagi menggema. Setiap zaman selalu ada bintangnya. Masalahnya adalah: Apakah kita melihatnya?

Jangan-jangan kita capek meributkan akar dan umbi sebagai pengganti padahal ada rotan yang tersedia cukup melimpah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

[BACA SEJARAH YOOK?1: 9] Bendera Setengah Tiang di Belanda

Bendera Setengah Tiang di Belanda

“ Negeri ini sepantasnya mengibarkan bendera setengah tiang. "

Sehari setelah penangkapan, seorang pengacara Belanda datang menemui Hatta di sel. Mr. Duys namanya. Menurutnya, penahanan Hatta ini telah mencoreng kewibawaan dan hukum Negeri Belanda. Dia dan Mr. Mobach bersedia membela secara gratis.

Alhamdulillah. Tapi, "Apa Tuan sudah tahu pasal aku ditahan?" Tanya Hatta.
Mr. Duys menyeringai, "Tentu. "

Dia turunkan kakinya yang di awal duduk disilangkan.
"Ada tiga tuduhan yang dijatuhkan pada Tuan: menjadi anggota perhimpunan terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan penghasutan untuk menentang Kerajaan Belanda. "

Hatta cuma tersenyum mendengarnya. Dia memang sudah mempelajari. Tapi tanpa kopi pekat panas, malas rasanya mendengarkan segala fitnah itu. Tapi sudahlah. Bagaimanapun, orang ini hadir membawa harap. Mr. Duys adalah tamu. Tamu pertama dan mungkin akan menjadi satu-satunya tamu yang berani datang ke sel ini.

"Ada tiga rekan Tuan yang juga ditahan dengan tuduhan yang sama, Tuan Nazir Pamontjak, Tuan Ali Sastroamidjojo, dan Tuan Abdul Madjid Djojoadiningrat.

“Sebenarnya masih ada tiga orang lagi, " kata Mr. Duys, "tapi karena mereka sedang di luar negeri, otomatis tidak dapat ditahan. "

Mr. Duys melirik ke arah Hatta, "Tuan Achmad Soebardjo, Tuan Gatot Tarumihardjo, dan Tuan Arnold Manuhutu. " lnforman andal.

"Ya, mereka memang sedang di luar negeri untuk keperluan propaganda bagi kemerdekaan tanah air kami. " Hatta tertawa dalam hati. Mereka lebih beruntung. Harusnya aku mendengarkan nasihat mereka untuk tidak pulang dulu ke negeri ini lepas menghadiri Kongres Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kemerdekaan dua minggu lalu. Tapi semua telah terjadi.

"Kami yakin, Tuan-Tuan tidak bersalah. Karena itu, izinkan saya dan beberapa teman menjadi pembela Anda semua.

“Bisa dipercaya?” Sontak Hatta berpikir demikian. Reputasi bangsa kulit putih telah kesohor dengan ingkar janjinya. Mulai dari sejarah "Plakat Panjang" yang berkedok sahabat di bumi Minangkabau tapi ternyata melahirkan Perang Padri, hingga 'November Belofte yang sempat berembus saat usianya enam belas di tahun 1918.

Tapi Mr. Duys adalah kenalannya, walau belum terlalu akrab. Dia anggota parlemen Belanda dari Partai Sosial De-. mokrat Buruh (SDAP, Social Democratische Arbeiders Party).

Hatta mengenalnya semenjak aktif mengikuti beberapa kongres internasional, termasuk Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussel. Pasti Mr. Duys punya pertimbangan khusus dengan tawarannya ini. Dia menjabatku hangat tadi. Persoalannya, andai aku sendiri menyambut uluran tangan Mr. Duys, apa itu namanyal Cooperation? Kerja sama? Terjadi perang di batin Hatta.

Tidak! Demi Allah, aku akan tetap di jalur non-cooperation. Apa kata teman-teman pergerakan di Hindia-Belanda nanti. Sejarah buyut dan nenek moyang adalah sejarah yang berdarah-darah. Sejarah ini, sejarah luka. Lantas?

Lama juga dia bermain dengan pikirannya sendiri. Mr. Duys seperti merasakan kegundahan Hatta. Dia melempar senyum, dan spontan Hatta menemukan jawabnya. Senyum itu memberikan inspirasi. Itu pasti karena pertemanan dan kemanusiaan. Kemanusiaan tidak perlu diajarkan. Dia lahir karena simpati dan kesadaran: bahwa kebenaran harus selalu diperjuangkan. Dan pertemanan, selamanya harus dipandang secara positif.

Karena itu, "Baiklah. " Mr. Duys menyeringai senang, "Terima kasih saya ucap-
kan sebelumnya atas perkenan Tuan. "

"Sayalah yang harus mengucapkan demikian. Anda sudah bersedia menolong saya. "

Lagi-lagi Mr. Duys tersenyum. Tulus, terasa. Sebagai politikus dan pengacara andal, Mr. Duys sangat paham, pesakitan harus sering-sering disiram dengan senyum lebar untuk menyemangati hidupnya.

Sesaat sebelum Mr. Duys pamit, Hatta sempat melirik sipir penjara yang masih berdiri kaku di samping pintu sel. Dia berbisik pelan ke telinga Mr. Duys, "Kalau Tuan tidak keberatan, bisakah kiranya saya dikirimi beberapa buku mengenai hukum konstitusi dan ilmu politik?"

"Buku apakah itu?" tanya Mr. Duys hati-hati.

"Terutama buku-buku Kranenburg dan Krabbe, dan satu set lengkap majalah Indonesia Merdeka, jika mungkin, guna membantu menyusun pembelaanku?"

"Baik, akan kuusahakan, "ujar Mr. Duys sembari merangkul bahu Hatta. Dari balik jeruji, dilihatnya Mr. Duys melambai sambil tersenyum kecil. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut putih keperakan. Dia mirip actor di "Opera
Hirsch" yang biasa ditonton saban Jumat sore di kota ini, kata Hatta dalam hati.
Goede Morgen, Mr. Duys. Ya, itu adalah hari keduanya berada di sel penjara. Ruang kotak yang masih terlalu asing baginya.

Kesunyian yang aneh. Kenapa aku di sini? Hatta masih saja sibuk bertanya sendiri. Sekeliling mata memandang, hanya tembok kusam. Selebihnya sepotong kasur, meja tua, dan kursi yang pernah diduduki Mr. Duys.

Setangkup roti dan susu encer di pagi hari, serta Kutspot yang merupakan campuran kentang, sayuran, dan seiris daging di siang hari tidak banyak memberikan energi untuknya.

Ya, Tuhan, ke manakah orangorang Belanda ini menyembunyikan kopi hitam? Aku tak bertenaga. Angin dingin berembus dari celah jeruji. Desirnya terdengar bak alun saluang Bukittinggi nan jauh di mato Betapa kurindu [].

****
DARI BUKU:
Tafsir Memoar, Catatan, Surat-Surat, dan Kisah Hidup Bung Hatta
SERGIUS SUTANTO.
HATTA: AKU DATANG KARENA SEJARAH
Penyunting: AgusHadiyono
Proofreader: M. Eka Mustamar
Cetakan I, September 2013
Diterbitknn oleh Penerbit Qanita
PT Mizan Pustaka

[BACA SEJARAH YOOK?!: 8] Sosialisme Indonesia

Sosialisme Indonesia

Suatu malam di tahun 1961. Rahmi Hatta mendekat dengan wajah gusar. Dia menyerahkan surat pemberitahuan dari Kantor Telepon Bogor, kepada Pak Hatta.

"Pak Suli menyimpannya sejak dua hari yang lalu" katanya dan duduk di sebelah Hatta. Hatta melihatnya. Rasa aneh menjalari pikirannya.

"Ini sudah tidak benar,"ucapnya spontan karena terkejut, "lihat, jumlahnya. Beberapa kali lipat dari gaji pension yang saya terima".

Sebuah surat pemberitahuan tentang angsuran jaminan pemasangan telepon. Rahmi bergeming. Dia pun bingung.

"Mengapa jumlahnya bisa sebanyak itu?" tanya Rahmi pelan.
Hatta tidak menyahut. Hatinya terus mempertanyakan keanehan yang tertera pada selembar kertas di tangannya.
Berdua terdiam.

Belum lama mereka mengeluhkan harga-harga kebutuhan yang makin melambung. Tarif listrik, gas, dan kebutuhan mendasar lainnya. Para pembantu mengeluhkan hal yang sama. Begitu pula sopir, sekretaris, dan orang-orang yang mereka temui di berbagai tempat.

Ya sudah, terserahlah, "katanya pasrah. "Kalau telepon mau dicabut, cabut saja. Bagaimana mungkin uang jaminan telepon tidak sebanding dengan pendapatan rakyat?"

Hatta bangkit menuju kamar kerja. Galau yang sangat. Inikah sosialisme Indonesia? Dia seperti melihat awan tebal menggelayut di atas negeri ini sejak pidato Soekarno tanggal 17 Agustus 1960 dijadikan Garis-Garis Besar Haluan Negara: Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.

Bukan bermaksud menyudutkan lemahnya kebijakan pemerintah, tapi lebih untuk menyandarkan sebuah kebenaran yang ada. Bahwa semua paham sosialisme di muka bumi ini punya kesamaam sama-sama menghendaki sebuah pergaulan hidup di mana tidak ada lagi penindasan dan pengisapan.

Sosialisme hanya dapat hidup di bawah arahan orang yang memang bersikap hidup sosialis. Orang tersebut harus meyakini paham sosialisme. Kalau tidak, akan terjadi kesenjangan antara teori dan praktiknya. Dalam pandangan Hatta, sosialisme di masa Demokrasi Terpimpin dilakukan tanpa pemahaman teori dan dilaksanakan tanpa perhitungan. Jalan menuju sosialisme seharusnya mengingat prioritas. Keperluan hidup yang penting, makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan harus menjadi prioritas utama.

Hatta teringat diskusinya, ketika remaja dulu, tentang Sosialisme Islam dengan H. Agus Salim. Jiwa Islam menolak kapitalisme yang mengisap dan menindas, yang menurunkan derajat manusia serta membawa sistem yang lebih jahat daripada perbudakan, bahkan melebihi feodalisme. Karena itulah paham ini bertolak jauh dari paham Marx.

Tidak pelak lagi, bicara sosialisme berarti mempersoalkan hajat hidup orang banyak, soal rakyat. Dan aku adalah bagian dari rakyat. Hatta kecewa.
Negeri yang dulu dia perjuangkan kemerdekaannya, kini bak wahana sirkus diktator lapar yang siap menindas kaum lemah. Ke mana perginya janji kemerdekaan dulu, jika kebijakan-kebijakan istana tidaklagi mengindahkan keadilan dan kewajaran di negerinya sendiri?

Saat radio di rumahnya rusak dan diperbaiki oleh petugas Ralin, Hatta ingat sekali harus membayar upah kerja Rp 75O, - ditambah pajak sepuluh persen sebesar Rp75, -. Bukan soal jumlah yang dikeluhkannya. Pajak itu adalah pajak atas buruh dan itu artinya "mengisap buruh". Lain halnya jika jumlah sepuluh persen tersebut merupakan tambahan upah bagi pekerja yang bersangkutan.

Jika seperti itu, negeri sosialis yang dikumandangkan pemerintah dan tokoh-tokoh Demokrasi Terpimpin tak ubahnya sebuah "sistem eksploitasi kapitalisme dengan jalan mengisap kelebihan nilai dari tenaga buruh". Mendung bergelayut.

Istana dan para pendukung konsepsi Soekarno menuduh Hatta telah menyalahgunakan emas Fonds Kemerdekaan di masa revolusi. Baginya, menanggapi segala tuduhan tanpa bukti yang kuat sama dengan menampar angin di udara. Sia-sia.

Sumanang selaku Ketua Fonds Kemerdekaan memberikan pernyataan bahwa Fonds tersebut turut hijrah ke Yogyakarta saat pemerintah pusat pindah ke kota itu pada permulaan 1946. Benda-benda itu telah didaftar, termasuk juga oleh Bank Negara. Sebagian dipakai untuk pembelian Gedung Proklamasi di Pegangsaan Timur 56, membantu perang gerilya dan subversi terhadap Belanda di Jogja. Ada pula yang disita Belanda setelah Agresi Militer kedua.

Jelas bahwa tuduhan kalangan sayap kiri itu tidak berdasar. Fitnah belaka. Inikah Kepribadian Indonesia? Hal ini pula yang Hatta pertanyakan iewat surat kepada Menteri Luar Negeri Subandrio, di awal Juni 1962. Saat itu, Departemen Luar Negeri menahan paspor dan menghalangi Hatta menghadiri Conference on Economic Cooperation and Partnership, sebuah kerja sama ekonomi negeri-negeri non-komunis yang disponsori oleh Theodor Kornerstiftung Fonds.

Hatta sangat kecewa dengan perlakuan itu. Yang lebih mengesalkan adalah datangnya surat ucapan terima kasih dari panitia konferensi kepada Subandrio yang telah memungkinkan dirinya hadir dalam pertemuan di Wina tersebut.

"Permainan" yang dilakukan orangorang dalam pemerintahan, demikian Hatta menilai kejadian ini. Hatta melangkah ke lantai dua, perpustakaannya. Dari banyak hal, bukulah penghiburan bagi dirinya. Melihat buku-buku yang dulu dibeli saat inflasi di Hamburg, Jerman, dia teringat satu kisah. Kisah sepotong jas, di tahun 1922.

Usia Hatta baru dua puluh tahun. Itulah tahun kedua dia terpisah ribuan mil dari kampung halaman. Kala itu, dia tengah liburan ke Hamburg usai ujian sekolah dan tinggal di sebuah penginapan murah milik Nyonya Jachnik.

Satu hari seorang penjahit, yang juga menetap di situ, menjumpainya.
"Tuanlah orang Indonesia yang pernah tinggal di rumah ini, yang belum pernah memesan pakaian padaku, " katanya sambil memperhatikan Hatta. Hatta hanya bisa tersenyum ramah.

"Dahulu, Tuan Mukiman dan Tuan Kusumaatmaja tinggal di sini dan memesan pakaian padaku. Cobalah Tuan pesan, dua atau setidaknya satu pasang" Katanya lagi dengan lirih, " Pesanan Tuan akan menolong usahaku"

Hatta tidak sampai hati. Tapi dia juga sadar, dirinya tidak memiliki uang berlebih. Sebagai mahasiswa, dia harus berhemat.

"Maaf Tuan, aku tak punya cukup uang untuk memesan pakaian, "jawabnya jujur, "Pakaian yang sekarang kukenakan saja, pakaian lama yang kuperbaiki di negeriku. "

"Aku mengerti, " kata si penjahit. Tapi tetap saja dia memaksa. "Tidak perlu Tuan bayar sekarang. Tuan bisa membayarnya nanti saat Tuan kembali ke negeri Belanda"

Hatta agak heran dengan penjahit ini.
"Aku percaya orang Indonesia, bangsa Tuan, adalah orang yang jujur. Ini sudah dibuktikan oleh Tuan Mukiman dan Tuan Kusumaatmaja. "
"Bagaimana?"

Hatta melihat jas yang dikenakannya. Memang sudah agak lusuh. Tak apalah, aku memesannya satu dari penjahit ini, pikirnya. Dipilihnya warna biru tua dengan kesepakatan harga dalam kurs Jerman, R. M. 37. 000, -atau sama dengan f 33, -nilai gulden.

Beberapa bulan berselang ketika dia kembali ke Belanda, Hatta teringat harus membayar penjahit tersebut. Kala itu, kurs Jerman merosot tajam seiring inflasi besar-besaran yang melanda. Satu gulden kira-kira seharga dengan R. M. 5. 000, -. Artinya harga jas tersebut merosot ke kisaran f 8, -. Namun Hatta tetap menukarkan f 20, -yang menjadi R. M. 100. 000, -dan dikirimkan semua kepada si penjahit.

Seminggu kemudian, dia menerima surat dari si penjahit yang isinya memuji dirinya dan menyanjung kebaikan serta kemurahhatian bangsa Indonesia.

Kisah itu sudah lampau berlalu. Sebelum orang-orang berkoar tentang perlunya kepribadian bagi Indonesia, Hatta telah mengukir cerita keluhuran pribadi sebuah bangsa, yang dirasakan oleh warga bangsa lain.

***
DARI BUKU: KARYA SERGIUS SUTANTO
"HATTA: AKU DATANG KARENA SEJARAH"
{Belilah Buku Asli}
Cetakan I, September 2013
Diterbitknn oleh Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka
Jin. Cinambo No. 135 (Ctearanten Wetan), Ujungberung, Bandung
e-mailiqanita@mizan. com
milis: qanita@yahoogroups. com

[BACA SEJARAH YOOK?!: 7] Dl GEDUNG AGUNG YOGYA, BUNG KARNO BlKIN KOLAM

Dl GEDUNG AGUNG YOGYA, BUNG KARNO BlKIN KOLAM

Bahwa Indonesia telah merdeka, tidak serta-merta diterima Belanda. Sejarah mencatat, Belanda kembali ke Ibu Pertiwi dengan membonceng tentara Sekutu. Dengan buas dan beringas pasca dipukul Jepang tahun 1943, mereka kembali seperti hendak menelan bulat-bulat Hindia Belanda (Indonesia) dan menjajahnya kembali.

Mereka tidak terima keadaan, bahwa sejatinya Hindia Belanda sudah menjadi sejarah. Hindia Belanda kini telah merdeka menjadi sebuah negara bernama Republik Indonesia Bung Karno dan Bung Hatta tentu saja menjadi dua orang di urutan pertama yang harus diburu Belanda untuk dilenyapkan. Menyadari ancaman itu, Bung Karno dan keluarga, Hatta serta para pemimpin dan tokoh lain, hijrah ke Yogyakarta menggunakan kereta api luar biasa (KLB) pada 6 Januari 1946.

Disebut luar biasa karena proses berangkat dan keberadaan kereta api itu sendiri sangat dirahasiakan Presiden Sukarno, Ibu Negara Fatmawati dan anak pertama mereka, Muhammad Guntur Sukarno Putra yang masih bayi, naik secara sembunyi-sembunyi. Bukan naik dari stasiun, melainkan naik dari belakang rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi) . Kereta api yang diawaki oleh masinis pejuang, sengaja melambat dan berhenti di belakang rumah Bung Karno, dan pada saat itulah Bung Karno dan keluarga naik dengan cepat ke gerbong yang sudah disiapkan.

Di dalam kota, apalagi menjelang masuk stasiun, memang biasa rangkaian kereta api berhenti menanti semboyan atau aba-aba yang membolehkan mereka harus berhenti, boleh melaju, atau perintah lain yang datangnya dari kepala pemberangkatan rangkaian kereta api yang ada di tiap-tiap stasiun. Karenanya, berhentinya kereta api di suatu ruas rel tertentu, dan kebetulan di belakang rumah Bung Karno pun bukan sesuatu yang aneh Bukan hanya itu, gerbong tempat Bung Karno dan keluarga berada, sengaja tidak dipasang lampu, sehingga menjadi gelap. Waktu kereta berhenti, kumandang adzan maghrib sudah sementara waktu terdengar.

Itu artinya, jam pastilah sudah menunjuk pukul 18. 00 lebih Matahari sudah ke peraduan, sehingga menyisakan kegelapan. Dan dalam kegelapan suasana di luar, ditambah rangkaian gerbong yang gelap tanpa lampu, NICA tidak menaruh curiga apa pun. Bahkan sama sekali tidak menyangka, "buruan"utamanya ada di gerbong kereta api yang menuju Yogyakarta. Gerbong tanpa lampu pada masa itu, jamak-jamak saja Setelah semalam perjalanan, tibalah kereta api luar biasa itu di Stasiun Tugu, Yogya.

Dari stasiun, rombongan Presiden Sukarno diarahkan menempati bekas rumah Gubernur Belanda yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Agung, di depan Benteng Vredeburg Lokasi itu berada di ujung jalan Malioboro, tak jauh dari Keraton Yogya. Bahkan, kehadiran Bung Karno dan keluarga, menjadi concern Sri Sultan Hamengku Buwono DC, Raja Yogya yang begitu besar wibawa dan pengaruhnya Bagaimana dengan Bung Hatta?la menempati gedung di samping Gedung Agung yang sekarang menjadi markas Korem 072/Pamungkas, atau seberang Pegadaian, tak jauh dari kantor polisi Ngupasan.

Dari sisi lokasi, tempat Bung Karno dan Bung Hatta hanya terpisah jalan Dari hitungan jarak, lokasi tempat tinggal dwitunggal itu hanya belasan meter saja Kota Yogyakarta kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia yang belum genap setahun berdiri. Pemerintahan dijalankan dengan penuh improvisasi. Dalam hal dukungan logistik, tak bisa dipungkiri, Sri Sultan Hamengku Buwono IX atas nama rakyat dan pihak Kerajaan Yogyakarta, berperan banyak. Sri Sultan HB IX, juga dikenal sebagai penyokong proklamasi yang gigih. la mempertaruhkan banyak hal untuk berdiri tegak di belakang Sukarno-Hatta dan Republik Indonesia Kota Yogyakarta, pada awal tahun 1946, hanya berkisar 170. 000 jiwa, namun tak lama setelah Ibukota Negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota budaya ini pun tumbuh pesat. Dalam kurun beberapa minggu, jumlah penduduk Yogyakarta menjadi sekitar 600. 000 jiwa Salah satu pengandil penambahan penduduk yang begitu pesat adalah 38. Di Gedung Agung Yogya, . . perpindahan semua badan dan lembaga negara beserta para pejabat dan pegawainya.

Para menteri dan pejabat tinggi, rela tinggal menumpang di rumah-rumah penduduk Yang ini, kisah Bung Karno di Gedung Agung, atau biasa disebut Istana Yogyakarta. Kompleks Bangunan megah ini terdiri atas enam bangunan utama, yang sekarang kita kenal dengan nama-nama: Gedung Agung, Wisma Negara, Wisma Indraprasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretewu, dan Wisma Saptapratala. Adapun ruang utama, dinamakan Ruang Garuda, biasa digunakan untuk menyambut tamu negara.

Di bagian depan sisi kanan gedung utama terdapat Ruang Soedirman. Sejarahnya, dulu di tempat inilah Panglima Besar Soedirman berangkulan untuk pamit kepada Presiden Sukarno ketika hendak menjalankan aksi perang gerilya. Suatu upaya untuk menunjukkan eksistensi NEGARA REPUBLIK INDONESIA yang telah merdeka, dan tidak sudi dijajah kembali. Di bagian depan sebelah kiri, ada Ruang Diponegoro, pangeran yang pernah melakukan perlawanan gigih terhadap Belanda. Kini, kedua ruang itu digunakan sebagai ruang tunggu tamu .

Pada waktu persiapan menghadapi agresi Belanda yang pertama, di halaman Istana sering dipakai latihan baris-berbaris pasukan pengawal presiden. Sementara para pengawal berlatih baris-berbaris, Bung Karno biasanya berlari-lari pagi memutari para pengawalnya yang sedang berlatih baris-berbaris dan ilmu ketangkasan. Sementara, Ibu Fatmawati bermain bola keranjang bersama para pengawal sambil mengasuh Guntur Yang menarik, Bung Karno sebagai "tukang insinyur"tercatat sempat merancang sebuah kolam ikan di halaman samping ruang tempat Bung Karno biasa memberi kursus politik kepada para wanita, remaja putri, mahasiswi, dan pelajar putri. Ruang itu sampai sekarang masih ada, dan sering dijadikan tempat pertunjukan kesenian kalau ada tamu negara. Bahkan, kolam ikan dan taman karya Bung Karno pun masih utuh dan terawat hingga hari ini.

***
DARI BUKU:
ROSO DARAS: “ TOTAL BUNG KARNO Serpihan Sejarah yangTercecer “
[BELILAH BUKU ASLI]
Penerbit Imania
Ki Town House Blok H
Jl. Raya Limo, Depok 16515
Telp (021) 753 1711, Faks. (021) 753 1711
E-mail:etera_imania@yahoo. com
Website:www. pustakaiman. com
Didistribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU)
Jl Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146
Ujungberung, Bandung 40294
Telp. (022) 781 5500, Fax. (022) 780 2288
E-mail:mizanmu@bdg. centrin. net. id

[BACA SEJARAH YOOK?!: 6] Tentang "Indonesia Menggugat"

Tentang "Indonesia Menggugat"

Pembelaan Bung Karno yang diberinya judul "INDONESIA MENGGUGAT"adalah salah satu masterpiece pemikiran Bung Karno. Butir-butir pemikiran yang ia tuang dalam teks pembelaan itu, benar-benar merupakan hasil kontemplasi seorang pemikir muda, dalam ruang tahanan Belanda selama delapan bulan Persidangan yang bersejarah itu sendiri berlangsung 18 Agustus 1930, bertempat di Jl. Landraad Bandung.

Tuduhan kepada Bung Karno cukup serius, yakni tuduhan memiliki maksud hendak menjatuhkan pemerintah Hindia Belanda dan mengganggu keamanan negeri dengan berkomplot untuk membuat pemberontakan. Tuduhan lainnya yakni mencoba membinasakan pemerintah Hindia Belanda dengan jalan tidak sah (artikel 110 buku hukum pidana) membuat pemberontakan (artikel 163 bis buku hukum pidana) dengan sengaja menyiarkan kabar dusta untuk mengganggu ketertiban umum (artikel 171 undang-undang hukum pidana) . Intinya, Sukarno dituduh sebagai pemberontak. Ia kemudian dijerat dengan pasal-pasal karet haatzai artikelen Selain itu, Sukarno, bersama tiga rekannya: Gatot Mangkupraja, Masjkun, dan Supriadinata dituduh memakai organisasi yang dipimpin untuk menggulingkan kekuasaan Hindia Belanda.

Adapun organisasi yang dimaksud adalah Perserikatan Nasional Indonesia, yang didirikan paca tanggal 27 Juli 1927. Organisasi itulah yang kemudian menjadi cikal-bakal lahirnya Partai Nasional Indonesia (PNI) Persidangan berlangsung panjang, sejak bulaji Agustus hingga Desember 1930.

Dalam keseluruhan rangkaian persidangan, pihak Hindia Belanda menampilkan saksi utama untuk penuntut umum, Komisaris Polisi Albreghs. Tetapi kesemua keterangan, sama sekali gagal mengarahkan kepada kesimpulan adanya subversi komunis Upaya penuntut umum untuk menunjukkan adanya hubungan langsung antara PNI dan Perhimpunan Indonesia di Belanda, yang mengarahkan adanya subversi komunis, tak pernah berhasil dibuktikan di persidangan. Sebaliknya, Sukarno berhasil membuktikan independensi PNI Dalam proses persidangan, Bung Karno, dan kawan-kawan didampingi pengacara Suyudi S. H. , Ketua PNI Cabang Jawa Tengah, tuan rumah saat Sukarno ditangkap, Mr. Sartono, seorang rekan dari Algemeene Studieclub yang tinggal di Jakarta dan menjadi Wakil Ketua yang mengurus soal keuangan partai, Mr. Sastromulyono yang tinggal di Bandung. Ketiganya melakukan tugasnya tanpa dibayar, bahkan rela mengongkosi seluruh pengeluaran.

Sekalipun begitu, Sukarno merasa perlu menyiapkan pembelaannya sendiri. Nah, kumpulan pembelaan itulah yang kemudian dirangkum dalam buku INDONESIA MENGGUGAT. Buku itu telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing. Sampai sekarang, INDONESIA MENGGUGAT menjadi dokumen sejarah politik Indonesia Pembelaan itu begitu fenomenal. Bukan saja menjadi topic bahasan akademik di Belanda, tetapi juga menjadi kajian serius di sejumlah negara Eropa lainnya. Sebagai pembelaan politik seorang tahanan politik sebuah negara jajahan, "Indonesia Menggugat"laksana mercusuar yang memberi isyarat jelas bagi peradaban dunia Tentu bukan kebetulan.

Sekalipun naskah pembelaan itu disiapkan dengan sangat memprihatinkan, menggunakan alas tempat buang air di selnya yang sempit, tetapi justru menghasilkan sebuah pemikiran brilian. Ini bukan semata karena tingkat kecerdasan seorang Sukarno yang memang di atas rata-rata, tetapi Sukarno sendiri menyiapkan pembelaan itu dengan sangat matang "Indonesia Menggugat"ditulis dengan tangan Sukarno setiap malam hingga larut malam, selama tak kurang dari 45 hari. Yang mengalir melalui otak dan tangannya, adalah hasil kajian mendalam dari sedikitnya 80 buku dan pidato tokoh terkemuka dari Barat yang ditulis dalam bahasa Inggris, Prancis, maupun Jerman.

Tak hanya itu, sebanyak 10 pemikiran tokoh dari Timur juga dijadikan rujukan pembelaan politik tersebut Hingga hari ini, teks pembelaan "Indonesia Menggugat"menjadi dokumen penting berkelas dunia, sebagai bagian dari sejarah penentangan kolonialisme dan imperialisme. Sukarno menggambarkan secara terperinci penderitaan rakyat sebagai penghisapan tiga setengah abad oleh penjajahan Belanda.

Tesis tentang kolonialisme itu, kemudian diterbitkan dalam selusin bahasa di beberapa negara Berikut adalah sekelumit pembelaan Sukarno di Jalan Landraad, yang ia ucapkan dengan suara menggelegar, meledak-ledak, menunjukkan besarnya nyali "musuh nomor satu" Belanda . . . "Pergerakan tentu lahir. Toh . . . . Diberi hak-hak atau tidak diberi hak-hak;diberi pegangan atau tidak diberi pegangan;diberi penguat atau tidak diberi penguat, —tiap-tiap machluk, tiap-tiap ummat, tiap-tiap bangsa tidak boleh tidak, pasti achirnja berbangkit, pasti achirnja bangun, pasti achirnja menggerakkan tenaganja, kalau ia sudah terlalu sekali merasakan tjelakanja diri teraniaja oleh suatu daja angkara murka! Djangan lagi manusia, djangan lagi bangsa, —walau tjatjing pun tentu bergerak berkeluget-keluget kalau merasakan sakit!"

Selagi Bung Karno membacakan naskah "Indonesia Menggugat", suasana hening. Tidak satu pun yang hadir bersuara. Padahal, suasana persidangan sangat gegap-gempita. Ruang sidang penuh manusia Halaman gedung pengadilan penuh manusia. Toh, saat Bung Karno bersuara, semua diam, suasana senyap. Tiada gemerisik suara. Selain gelegar suara Bung Karno, yang terdengar hanya suara putaran lembut dari kipas-angin di atas kepala yang terdengar merintih.

***
DARI BUKU:
ROSO DARAS: “ TOTAL BUNG KARNO Serpihan Sejarah yangTercecer “
[BELILAH BUKU ASLI]
Penerbit Imania
Ki Town House Blok H
Jl. Raya Limo, Depok 16515
Telp (021) 753 1711, Faks. (021) 753 1711
E-mail:etera_imania@yahoo. com
Website:www. pustakaiman. com
Didistribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU)
Jl Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146
Ujungberung, Bandung 40294
Telp. (022) 781 5500, Fax. (022) 780 2288
E-mail:mizanmu@bdg. centrin. net. id