AHOK MULAI MENYEDIHKAN!!

 


Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Biasanya saya begitu bersemangat kalau memirsa Ahok di TV lagi diwawancarai. Wajahnya yang ganteng, kulitnya yang putih mulus dan ledakan suara yang didorong oleh keberanian dan "rasa" benarnya membuatnya seperti meledak-ledak. Memukau.

Tadi malam, ketika wartawati Metro TV mewawancarainya terkait keinginannya membangun kembali lokalisasi pelacuran di DKI, kontan situasinya menjadi berbalik 180 derajat. Dia memang masih gagah berani tetapi sudah mulai tidak bener. Saya tahu bahwa wawancara itu didasari atas penolakan dia sebelumnya yang menyanggah bahwa Komplek Lokasari adalah lokalisasi pelacuran terselubung, saat itu dia berkata:

"Sekarang mana bukti lokalisasi? Nggak ada lokalisasi di sana. Kalau terselubung, tempat pijat juga banyak terselubung. Hotel-hotel juga banyak terselubung. Mau geser gimana, nggak ada buktinya," tegas dia.

Rupanya saat ini Ahok sudah tidak bisa berkelit akan kenyataan itu, maka daripada ribet-ribet mencari alasan, lebih baik diresmikan saja sekalian. Berarti di sudah mulai berbohong. Sayangnya dia masih gagah dan berani sehingga pemirsa cenderung masih "bisa tertipu".

Wartawati: "Apa alasan Bapak mau melokalisasi pelacuran, padahal Pemda lain seperti Wali Kota Surabaya justru berani menutup lokalisasi paling besar se Asia Tenggara 'DOLLY'?".

Ahok [kurang lebih]: " Pelacuran itu sejak zaman Nabi sudah ada dan tidak bisa dibasmi. Kita jangan munafiklah. Pelacuran menyebar kemana-kemana karena tidak dilokalisasi. Dengan dilokalisasi kita menjadi tahu dimana para pelacur itu berada sehingga kita bisa memantau mereka dan dengan mudah mengatur mereka dan dapat mencegah penyebaran aids dengan lebih mudah . . . .bla bla bla ". Itulah intinya.

Ahok yang selama ini selalu menjaga mulutnya untuk tidak menista Agama, sudah tertipu dengan kegagah beraniannya. Dia kira sifat itu bisa menutupi kejahilannya [jahil tidak sama dengan bodoh]. Nabi, tidak melegalkan pelacuran apalagi membiayai lokalisasinya, apalagi mengambil manfaat dari pajak-pajaknya. Secara hukum, polisi boleh menangkap orang [termasuk Ahok] yang mengatakan "ada pelacuran terselubung di tengah masyarakat", lalu memasukkannya ke dalam sel tahanan dengan tuduhan memfitnah. Dia tidak boleh dibebaskan sampai dia bisa menunjukkan buktinya.

Melokalisasi perbuatan haram untuk menghindari jatuh munafik kok malah justru menjerumuskan kepada kekafiran. Ini sebentuk logika yang menyedihkan.

Kerajaan Belanda, mantan penjajah kita itu adalah salah satu negara yang melegalkan Narkoba dan melokalisasinya. Pasti Ahok belajar dari sana, karena alasannya sama: (1) Tidak mungkin ditiadakan, (2) agar mudah memantau pemadatnya sehingga (3) memudahkan mengatur dan menyembuhkannya. Menyembuhkan pecandu narkoba dan pelacuran, semua orang tahu, bagai menegakkan benang basah. Omong-kosongnya yang pasti lebih banyak dari pada isinya.

Fakta yang paling meyakinkan terkait manfaat lokalisasi pelacuran adalah duitnya, selain tentu saja buit-nya*. Kita Masih ingat ketika mantan Gubernur DKI yang sama gagah dan beraninya dengan Ahok, Ali Sadikin yang dengan suara nyinyir menghardik Prof Hamka yang menolak lokalisasi pelacuran Bina Ria, Ancol dan Kramat Tunggak. Ali Sadikin berteriak sombong berkata: "Kalau Hamka tidak setuju lokalisasi pelacuran itu, maka jangan jalan diatas aspal-aspal Jakarta karena saya membangun jalan itu dengan pajak judi dan pelacuran". Inlander yang gagah berani namun mentalnya masih terjajah.

Sekarang, Belanda dan negara-negara Erofa yang berlogika 'tersesat' seperti itu harus kembali menelan pil beracun karena harus melegalkan Kawin sejenis, karena jumlah homo dan lesbi tidak lagi bisa ditutup tutupi. Dari pada munafik membiarkan kawin sesama jenis merebak dan terselubung, mendingan dilegalkan saja. Itulah jahiliyah. Dengan logika demikian itulah perjudian, minuman keras akhirnya juga dilegalkan dan dilokalisasi dengan HANYA SATU manfaat yang nyata: UANG.

Suatu hari, Al-Imam As-Syafi'i ditanya:

"Mengapa lima orang pelacur hukumannya berbeda?
Satu orang dibunuh, yang kedua dirajam, yang ketiga dicambuk, yang keempat hanya ajari dan dididik, sedangkan yang ke lima dibebaskan?

Jawabnya:
Yang pertama dibunuh karena dia menghalalkan yang haram, dia telah kafir, murtad;
Yang kedua dirajam karena telah berzina dan tahu haram padahal dia punya istri
Yang ketiga dia berzina, tahu haram, balig dan berakal tetapi belum punya istri
Yang ke empat berzina tetapi belum balig, dan
Yang ke lima karena dia orang gila.

Jadi, jika Ahok hendak melegalkan dan melokalisasi pelacuran dus juga perjudian selanjutnya akan menyusul perkawinan homo dan lesbi dan akan berketerusan dengan legalisasi dan lokalisasi narkoba ... hukuman kategori pertama cocok untuk dia. kalau masih mau menghindarinya maka dia boleh memilih kategori yang ke lima.

Seandainya, tulisan ini entah dengan cara bagaimana bisa sampai pada Ahok, maka saya masih menyisakan harapan karena saya dengar dengar Ahok itu orangnya terbuka dan mau belajar, begini: Pak Ahok yth. Sadarilah bahwa anda mewakili etnis China yang berjumlah lebih dari lima juta orang di Indonesia, jika anda bisa menunjukkan kebijakan yang tidak menyerempet perasaan mayoritas, maka stigma buruk yang selama ini memasung gerakan asimilasi suku dan ras di Pertiwi ini lama-lama akan berkurang. Tetapi jika anda berkeras dengan sikap Sok gagah dan berani itu, maka betapa anda telah akan memperdalam rasa curiga mayoritas terhadap minoritas, khususnya etnis China. Sadarilah dan berhati-hatilah sebab anda Wagub yang tidak biasa. Semoga bermanfaat. amiin

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 8 Desember 2013

*BUIT = dalam Bahasa Sasak artinya pantat. [maaf]

PILPRES dan WORLD CUP 2014 TAK ADA AKAR ROTAN-PUN JADI

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Sebuah Sukses Story diperlukan Bangsa yang sedang terpuruk ini. Rakyat sudah bosan terpuruk, birokrasi sudah jenuh disumpah serapah. Berdiam diri seprti menunggu godot sudah tidak zamannya lagi. Modal SDA sudah tidak meragukan, tinggal bagaimana SDMnya.

Ada yang berpendapat rakyatlah yang belum siap untuk maju, sekalipun Hugo Chaves jadi presiden di sini, tetap saja akan begini. Ibarat lokomotif roll rois tapi gerbongnya keberatan. Tapi pendapat lain justru meyakini bahwa yang diperlukan adalah pemimpin dengan segudang kriteria, rakyat sudah siap siaga untuk ngacir, dengan kecepatan super-sonic sekalipun.

Persaingannya nyaris bagaikan mendaki puncak Everes di Tibet sana yang angker karena udara tipis dan jalannya licin berliku.

Apa boleh buat, karena ketatnya persaingan, maka kwalifikasi demi kwalifikasi pemimpin masa depan itupun terus menerus bertambah, mulai dari kemampuan menerbitkan auto / biografi agar terbukti secara empiris kelayakannya, kemudian sukses berekonomi atau 'sudah kaya dari sononya' agar kelak tidak dikhawatirkan memperkaya diri sendiri; Perlu juga ada nuansa kesalehan agar tidak bersinggungan dengan mayoritas atau bila perlu kafir sekalian supaya lebih mencuat kemampuan adaptatif dan kepluralismeannya; Biasa hidup sederhana juga perlu, maka tampil di TV dengan makan diwarteg adalah trik yang cukup ‘nendang’. Bahwa presiden memiliki koky dan ajudan pengecap makanan adalah urusan rahasia, masyarakat tidak banyak tahu itu.

Sedari pagi sekali, kandidat-kandidat muda potensial namun bermodal cekak didorong keujung labirin sehingga setiap saat gampang dijorokin. Ada pula yang dimasukkan kedalam sebuah system agar duduk, diam anteng dibalik ketiak boss. Bikin gerakan mencurigakan? . . .pluuuung …masuk kotak.

Satu demi satu calon kandidat yang sudah lama membangun image, mulai dari mimpi sampai geliat-geliat kecil, beguguran karena tidak mampu menggapai kriteria itu atau kehabisan nafas sebelum bertanding. Betul, bahwa mendaki puncak itu harus menyeret-nyeret kaki, menapak selangkah demi selangkah, tetapi untuk turun memerlukan energi berlipat ganda agar tidak disedot oleh grafitasi kedasar jurang yang mengerikan.

Kita masih mengenang bagaimana Allahu Yarhamuhu Presiden Gus Dur menebak dengan tepat kemenangan Italia atas Jerman Barat pada Piala Dunia 1982 di Barselona. Bahkan top skorernya sudah diramal "Roberto baggio". Lalu pada tahun 1999 Gus Dur malah terpilih menjadi Presiden. Entah apa korelasinya, pokoknya dipandang perlu seorang calon presiden menguasai urusan sepak bola. Sungguh kebetulan yang luar biasa kalau perhelatan Pilpres kita 2014 berdekatan dengan Piala Dunia Brazil. Sebelum Brazuka menggelinding di Maracana, di sini bola liar lebih dahulu dikick-off. Siapa tahu saat ini para kandidat, bakal calon sedang bersiap-siap menghafal peristilahan bola dan daftar nama pemain top dengan masing-masing keahliannya, cewek pasangannya komplit dengan barisan Toon Arminya.

Gelegar kampanye para bakal calon yang mempersonifikasi diri sebagai calon pemimpin kuat, jujur dan berani sudah tak menyisakan ruang rehat untuk sedikit mengaso dari hiruk pikuk iklan-iklan capres.

Sportifitas adalah prasyarat dalam sebuah kompetisi yang fair dan salah satu atlit yang sangat sportif adalah Ade Rai, seorang atlet bina raga dengan vitalitas tidak meragukan. Itu dulu. Tapi sekarang Ade cukup arif untuk memahami bahwa eranya sudah berlalu; Ade telah dengan damai beranjak menjadi kharisma yang Menyegankan. Chris John mencoba melawan usianya. Itu sebentuk penyakit George Formanian dan Oscar de La Hoyaiyan yang hanya mengingat satu kata "Dragon" tapi melupakan kata 'old'.

OK Christ ... semoga fakta bisa menjadi pelajaran berharga. Tak lupa terima kasih atas prestasi anda yang telah membanggakan kita semua.

LL2 [baca: double el kwadrat] alias lo lagi lo lagi, sebuah ungkapan kebosanan masyarakat sudah tidak pernah lagi menggema. Setiap zaman selalu ada bintangnya. Masalahnya adalah: Apakah kita melihatnya?

Jangan-jangan kita capek meributkan akar dan umbi sebagai pengganti padahal ada rotan yang tersedia cukup melimpah.

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

[BACA SEJARAH YOOK?1: 9] Bendera Setengah Tiang di Belanda

Bendera Setengah Tiang di Belanda

“ Negeri ini sepantasnya mengibarkan bendera setengah tiang. "

Sehari setelah penangkapan, seorang pengacara Belanda datang menemui Hatta di sel. Mr. Duys namanya. Menurutnya, penahanan Hatta ini telah mencoreng kewibawaan dan hukum Negeri Belanda. Dia dan Mr. Mobach bersedia membela secara gratis.

Alhamdulillah. Tapi, "Apa Tuan sudah tahu pasal aku ditahan?" Tanya Hatta.
Mr. Duys menyeringai, "Tentu. "

Dia turunkan kakinya yang di awal duduk disilangkan.
"Ada tiga tuduhan yang dijatuhkan pada Tuan: menjadi anggota perhimpunan terlarang, terlibat dalam pemberontakan, dan penghasutan untuk menentang Kerajaan Belanda. "

Hatta cuma tersenyum mendengarnya. Dia memang sudah mempelajari. Tapi tanpa kopi pekat panas, malas rasanya mendengarkan segala fitnah itu. Tapi sudahlah. Bagaimanapun, orang ini hadir membawa harap. Mr. Duys adalah tamu. Tamu pertama dan mungkin akan menjadi satu-satunya tamu yang berani datang ke sel ini.

"Ada tiga rekan Tuan yang juga ditahan dengan tuduhan yang sama, Tuan Nazir Pamontjak, Tuan Ali Sastroamidjojo, dan Tuan Abdul Madjid Djojoadiningrat.

“Sebenarnya masih ada tiga orang lagi, " kata Mr. Duys, "tapi karena mereka sedang di luar negeri, otomatis tidak dapat ditahan. "

Mr. Duys melirik ke arah Hatta, "Tuan Achmad Soebardjo, Tuan Gatot Tarumihardjo, dan Tuan Arnold Manuhutu. " lnforman andal.

"Ya, mereka memang sedang di luar negeri untuk keperluan propaganda bagi kemerdekaan tanah air kami. " Hatta tertawa dalam hati. Mereka lebih beruntung. Harusnya aku mendengarkan nasihat mereka untuk tidak pulang dulu ke negeri ini lepas menghadiri Kongres Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kemerdekaan dua minggu lalu. Tapi semua telah terjadi.

"Kami yakin, Tuan-Tuan tidak bersalah. Karena itu, izinkan saya dan beberapa teman menjadi pembela Anda semua.

“Bisa dipercaya?” Sontak Hatta berpikir demikian. Reputasi bangsa kulit putih telah kesohor dengan ingkar janjinya. Mulai dari sejarah "Plakat Panjang" yang berkedok sahabat di bumi Minangkabau tapi ternyata melahirkan Perang Padri, hingga 'November Belofte yang sempat berembus saat usianya enam belas di tahun 1918.

Tapi Mr. Duys adalah kenalannya, walau belum terlalu akrab. Dia anggota parlemen Belanda dari Partai Sosial De-. mokrat Buruh (SDAP, Social Democratische Arbeiders Party).

Hatta mengenalnya semenjak aktif mengikuti beberapa kongres internasional, termasuk Kongres Menentang Imperialisme dan Penindasan Kolonial di Brussel. Pasti Mr. Duys punya pertimbangan khusus dengan tawarannya ini. Dia menjabatku hangat tadi. Persoalannya, andai aku sendiri menyambut uluran tangan Mr. Duys, apa itu namanyal Cooperation? Kerja sama? Terjadi perang di batin Hatta.

Tidak! Demi Allah, aku akan tetap di jalur non-cooperation. Apa kata teman-teman pergerakan di Hindia-Belanda nanti. Sejarah buyut dan nenek moyang adalah sejarah yang berdarah-darah. Sejarah ini, sejarah luka. Lantas?

Lama juga dia bermain dengan pikirannya sendiri. Mr. Duys seperti merasakan kegundahan Hatta. Dia melempar senyum, dan spontan Hatta menemukan jawabnya. Senyum itu memberikan inspirasi. Itu pasti karena pertemanan dan kemanusiaan. Kemanusiaan tidak perlu diajarkan. Dia lahir karena simpati dan kesadaran: bahwa kebenaran harus selalu diperjuangkan. Dan pertemanan, selamanya harus dipandang secara positif.

Karena itu, "Baiklah. " Mr. Duys menyeringai senang, "Terima kasih saya ucap-
kan sebelumnya atas perkenan Tuan. "

"Sayalah yang harus mengucapkan demikian. Anda sudah bersedia menolong saya. "

Lagi-lagi Mr. Duys tersenyum. Tulus, terasa. Sebagai politikus dan pengacara andal, Mr. Duys sangat paham, pesakitan harus sering-sering disiram dengan senyum lebar untuk menyemangati hidupnya.

Sesaat sebelum Mr. Duys pamit, Hatta sempat melirik sipir penjara yang masih berdiri kaku di samping pintu sel. Dia berbisik pelan ke telinga Mr. Duys, "Kalau Tuan tidak keberatan, bisakah kiranya saya dikirimi beberapa buku mengenai hukum konstitusi dan ilmu politik?"

"Buku apakah itu?" tanya Mr. Duys hati-hati.

"Terutama buku-buku Kranenburg dan Krabbe, dan satu set lengkap majalah Indonesia Merdeka, jika mungkin, guna membantu menyusun pembelaanku?"

"Baik, akan kuusahakan, "ujar Mr. Duys sembari merangkul bahu Hatta. Dari balik jeruji, dilihatnya Mr. Duys melambai sambil tersenyum kecil. Tubuhnya tinggi semampai dengan rambut putih keperakan. Dia mirip actor di "Opera
Hirsch" yang biasa ditonton saban Jumat sore di kota ini, kata Hatta dalam hati.
Goede Morgen, Mr. Duys. Ya, itu adalah hari keduanya berada di sel penjara. Ruang kotak yang masih terlalu asing baginya.

Kesunyian yang aneh. Kenapa aku di sini? Hatta masih saja sibuk bertanya sendiri. Sekeliling mata memandang, hanya tembok kusam. Selebihnya sepotong kasur, meja tua, dan kursi yang pernah diduduki Mr. Duys.

Setangkup roti dan susu encer di pagi hari, serta Kutspot yang merupakan campuran kentang, sayuran, dan seiris daging di siang hari tidak banyak memberikan energi untuknya.

Ya, Tuhan, ke manakah orangorang Belanda ini menyembunyikan kopi hitam? Aku tak bertenaga. Angin dingin berembus dari celah jeruji. Desirnya terdengar bak alun saluang Bukittinggi nan jauh di mato Betapa kurindu [].

****
DARI BUKU:
Tafsir Memoar, Catatan, Surat-Surat, dan Kisah Hidup Bung Hatta
SERGIUS SUTANTO.
HATTA: AKU DATANG KARENA SEJARAH
Penyunting: AgusHadiyono
Proofreader: M. Eka Mustamar
Cetakan I, September 2013
Diterbitknn oleh Penerbit Qanita
PT Mizan Pustaka

[BACA SEJARAH YOOK?!: 8] Sosialisme Indonesia

Sosialisme Indonesia

Suatu malam di tahun 1961. Rahmi Hatta mendekat dengan wajah gusar. Dia menyerahkan surat pemberitahuan dari Kantor Telepon Bogor, kepada Pak Hatta.

"Pak Suli menyimpannya sejak dua hari yang lalu" katanya dan duduk di sebelah Hatta. Hatta melihatnya. Rasa aneh menjalari pikirannya.

"Ini sudah tidak benar,"ucapnya spontan karena terkejut, "lihat, jumlahnya. Beberapa kali lipat dari gaji pension yang saya terima".

Sebuah surat pemberitahuan tentang angsuran jaminan pemasangan telepon. Rahmi bergeming. Dia pun bingung.

"Mengapa jumlahnya bisa sebanyak itu?" tanya Rahmi pelan.
Hatta tidak menyahut. Hatinya terus mempertanyakan keanehan yang tertera pada selembar kertas di tangannya.
Berdua terdiam.

Belum lama mereka mengeluhkan harga-harga kebutuhan yang makin melambung. Tarif listrik, gas, dan kebutuhan mendasar lainnya. Para pembantu mengeluhkan hal yang sama. Begitu pula sopir, sekretaris, dan orang-orang yang mereka temui di berbagai tempat.

Ya sudah, terserahlah, "katanya pasrah. "Kalau telepon mau dicabut, cabut saja. Bagaimana mungkin uang jaminan telepon tidak sebanding dengan pendapatan rakyat?"

Hatta bangkit menuju kamar kerja. Galau yang sangat. Inikah sosialisme Indonesia? Dia seperti melihat awan tebal menggelayut di atas negeri ini sejak pidato Soekarno tanggal 17 Agustus 1960 dijadikan Garis-Garis Besar Haluan Negara: Undang-Undang Dasar 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian Indonesia.

Bukan bermaksud menyudutkan lemahnya kebijakan pemerintah, tapi lebih untuk menyandarkan sebuah kebenaran yang ada. Bahwa semua paham sosialisme di muka bumi ini punya kesamaam sama-sama menghendaki sebuah pergaulan hidup di mana tidak ada lagi penindasan dan pengisapan.

Sosialisme hanya dapat hidup di bawah arahan orang yang memang bersikap hidup sosialis. Orang tersebut harus meyakini paham sosialisme. Kalau tidak, akan terjadi kesenjangan antara teori dan praktiknya. Dalam pandangan Hatta, sosialisme di masa Demokrasi Terpimpin dilakukan tanpa pemahaman teori dan dilaksanakan tanpa perhitungan. Jalan menuju sosialisme seharusnya mengingat prioritas. Keperluan hidup yang penting, makanan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan pendidikan harus menjadi prioritas utama.

Hatta teringat diskusinya, ketika remaja dulu, tentang Sosialisme Islam dengan H. Agus Salim. Jiwa Islam menolak kapitalisme yang mengisap dan menindas, yang menurunkan derajat manusia serta membawa sistem yang lebih jahat daripada perbudakan, bahkan melebihi feodalisme. Karena itulah paham ini bertolak jauh dari paham Marx.

Tidak pelak lagi, bicara sosialisme berarti mempersoalkan hajat hidup orang banyak, soal rakyat. Dan aku adalah bagian dari rakyat. Hatta kecewa.
Negeri yang dulu dia perjuangkan kemerdekaannya, kini bak wahana sirkus diktator lapar yang siap menindas kaum lemah. Ke mana perginya janji kemerdekaan dulu, jika kebijakan-kebijakan istana tidaklagi mengindahkan keadilan dan kewajaran di negerinya sendiri?

Saat radio di rumahnya rusak dan diperbaiki oleh petugas Ralin, Hatta ingat sekali harus membayar upah kerja Rp 75O, - ditambah pajak sepuluh persen sebesar Rp75, -. Bukan soal jumlah yang dikeluhkannya. Pajak itu adalah pajak atas buruh dan itu artinya "mengisap buruh". Lain halnya jika jumlah sepuluh persen tersebut merupakan tambahan upah bagi pekerja yang bersangkutan.

Jika seperti itu, negeri sosialis yang dikumandangkan pemerintah dan tokoh-tokoh Demokrasi Terpimpin tak ubahnya sebuah "sistem eksploitasi kapitalisme dengan jalan mengisap kelebihan nilai dari tenaga buruh". Mendung bergelayut.

Istana dan para pendukung konsepsi Soekarno menuduh Hatta telah menyalahgunakan emas Fonds Kemerdekaan di masa revolusi. Baginya, menanggapi segala tuduhan tanpa bukti yang kuat sama dengan menampar angin di udara. Sia-sia.

Sumanang selaku Ketua Fonds Kemerdekaan memberikan pernyataan bahwa Fonds tersebut turut hijrah ke Yogyakarta saat pemerintah pusat pindah ke kota itu pada permulaan 1946. Benda-benda itu telah didaftar, termasuk juga oleh Bank Negara. Sebagian dipakai untuk pembelian Gedung Proklamasi di Pegangsaan Timur 56, membantu perang gerilya dan subversi terhadap Belanda di Jogja. Ada pula yang disita Belanda setelah Agresi Militer kedua.

Jelas bahwa tuduhan kalangan sayap kiri itu tidak berdasar. Fitnah belaka. Inikah Kepribadian Indonesia? Hal ini pula yang Hatta pertanyakan iewat surat kepada Menteri Luar Negeri Subandrio, di awal Juni 1962. Saat itu, Departemen Luar Negeri menahan paspor dan menghalangi Hatta menghadiri Conference on Economic Cooperation and Partnership, sebuah kerja sama ekonomi negeri-negeri non-komunis yang disponsori oleh Theodor Kornerstiftung Fonds.

Hatta sangat kecewa dengan perlakuan itu. Yang lebih mengesalkan adalah datangnya surat ucapan terima kasih dari panitia konferensi kepada Subandrio yang telah memungkinkan dirinya hadir dalam pertemuan di Wina tersebut.

"Permainan" yang dilakukan orangorang dalam pemerintahan, demikian Hatta menilai kejadian ini. Hatta melangkah ke lantai dua, perpustakaannya. Dari banyak hal, bukulah penghiburan bagi dirinya. Melihat buku-buku yang dulu dibeli saat inflasi di Hamburg, Jerman, dia teringat satu kisah. Kisah sepotong jas, di tahun 1922.

Usia Hatta baru dua puluh tahun. Itulah tahun kedua dia terpisah ribuan mil dari kampung halaman. Kala itu, dia tengah liburan ke Hamburg usai ujian sekolah dan tinggal di sebuah penginapan murah milik Nyonya Jachnik.

Satu hari seorang penjahit, yang juga menetap di situ, menjumpainya.
"Tuanlah orang Indonesia yang pernah tinggal di rumah ini, yang belum pernah memesan pakaian padaku, " katanya sambil memperhatikan Hatta. Hatta hanya bisa tersenyum ramah.

"Dahulu, Tuan Mukiman dan Tuan Kusumaatmaja tinggal di sini dan memesan pakaian padaku. Cobalah Tuan pesan, dua atau setidaknya satu pasang" Katanya lagi dengan lirih, " Pesanan Tuan akan menolong usahaku"

Hatta tidak sampai hati. Tapi dia juga sadar, dirinya tidak memiliki uang berlebih. Sebagai mahasiswa, dia harus berhemat.

"Maaf Tuan, aku tak punya cukup uang untuk memesan pakaian, "jawabnya jujur, "Pakaian yang sekarang kukenakan saja, pakaian lama yang kuperbaiki di negeriku. "

"Aku mengerti, " kata si penjahit. Tapi tetap saja dia memaksa. "Tidak perlu Tuan bayar sekarang. Tuan bisa membayarnya nanti saat Tuan kembali ke negeri Belanda"

Hatta agak heran dengan penjahit ini.
"Aku percaya orang Indonesia, bangsa Tuan, adalah orang yang jujur. Ini sudah dibuktikan oleh Tuan Mukiman dan Tuan Kusumaatmaja. "
"Bagaimana?"

Hatta melihat jas yang dikenakannya. Memang sudah agak lusuh. Tak apalah, aku memesannya satu dari penjahit ini, pikirnya. Dipilihnya warna biru tua dengan kesepakatan harga dalam kurs Jerman, R. M. 37. 000, -atau sama dengan f 33, -nilai gulden.

Beberapa bulan berselang ketika dia kembali ke Belanda, Hatta teringat harus membayar penjahit tersebut. Kala itu, kurs Jerman merosot tajam seiring inflasi besar-besaran yang melanda. Satu gulden kira-kira seharga dengan R. M. 5. 000, -. Artinya harga jas tersebut merosot ke kisaran f 8, -. Namun Hatta tetap menukarkan f 20, -yang menjadi R. M. 100. 000, -dan dikirimkan semua kepada si penjahit.

Seminggu kemudian, dia menerima surat dari si penjahit yang isinya memuji dirinya dan menyanjung kebaikan serta kemurahhatian bangsa Indonesia.

Kisah itu sudah lampau berlalu. Sebelum orang-orang berkoar tentang perlunya kepribadian bagi Indonesia, Hatta telah mengukir cerita keluhuran pribadi sebuah bangsa, yang dirasakan oleh warga bangsa lain.

***
DARI BUKU: KARYA SERGIUS SUTANTO
"HATTA: AKU DATANG KARENA SEJARAH"
{Belilah Buku Asli}
Cetakan I, September 2013
Diterbitknn oleh Penerbit Qanita, PT Mizan Pustaka
Jin. Cinambo No. 135 (Ctearanten Wetan), Ujungberung, Bandung
e-mailiqanita@mizan. com
milis: qanita@yahoogroups. com

[BACA SEJARAH YOOK?!: 7] Dl GEDUNG AGUNG YOGYA, BUNG KARNO BlKIN KOLAM

Dl GEDUNG AGUNG YOGYA, BUNG KARNO BlKIN KOLAM

Bahwa Indonesia telah merdeka, tidak serta-merta diterima Belanda. Sejarah mencatat, Belanda kembali ke Ibu Pertiwi dengan membonceng tentara Sekutu. Dengan buas dan beringas pasca dipukul Jepang tahun 1943, mereka kembali seperti hendak menelan bulat-bulat Hindia Belanda (Indonesia) dan menjajahnya kembali.

Mereka tidak terima keadaan, bahwa sejatinya Hindia Belanda sudah menjadi sejarah. Hindia Belanda kini telah merdeka menjadi sebuah negara bernama Republik Indonesia Bung Karno dan Bung Hatta tentu saja menjadi dua orang di urutan pertama yang harus diburu Belanda untuk dilenyapkan. Menyadari ancaman itu, Bung Karno dan keluarga, Hatta serta para pemimpin dan tokoh lain, hijrah ke Yogyakarta menggunakan kereta api luar biasa (KLB) pada 6 Januari 1946.

Disebut luar biasa karena proses berangkat dan keberadaan kereta api itu sendiri sangat dirahasiakan Presiden Sukarno, Ibu Negara Fatmawati dan anak pertama mereka, Muhammad Guntur Sukarno Putra yang masih bayi, naik secara sembunyi-sembunyi. Bukan naik dari stasiun, melainkan naik dari belakang rumahnya di Jl. Pegangsaan Timur 56 (sekarang Jalan Proklamasi) . Kereta api yang diawaki oleh masinis pejuang, sengaja melambat dan berhenti di belakang rumah Bung Karno, dan pada saat itulah Bung Karno dan keluarga naik dengan cepat ke gerbong yang sudah disiapkan.

Di dalam kota, apalagi menjelang masuk stasiun, memang biasa rangkaian kereta api berhenti menanti semboyan atau aba-aba yang membolehkan mereka harus berhenti, boleh melaju, atau perintah lain yang datangnya dari kepala pemberangkatan rangkaian kereta api yang ada di tiap-tiap stasiun. Karenanya, berhentinya kereta api di suatu ruas rel tertentu, dan kebetulan di belakang rumah Bung Karno pun bukan sesuatu yang aneh Bukan hanya itu, gerbong tempat Bung Karno dan keluarga berada, sengaja tidak dipasang lampu, sehingga menjadi gelap. Waktu kereta berhenti, kumandang adzan maghrib sudah sementara waktu terdengar.

Itu artinya, jam pastilah sudah menunjuk pukul 18. 00 lebih Matahari sudah ke peraduan, sehingga menyisakan kegelapan. Dan dalam kegelapan suasana di luar, ditambah rangkaian gerbong yang gelap tanpa lampu, NICA tidak menaruh curiga apa pun. Bahkan sama sekali tidak menyangka, "buruan"utamanya ada di gerbong kereta api yang menuju Yogyakarta. Gerbong tanpa lampu pada masa itu, jamak-jamak saja Setelah semalam perjalanan, tibalah kereta api luar biasa itu di Stasiun Tugu, Yogya.

Dari stasiun, rombongan Presiden Sukarno diarahkan menempati bekas rumah Gubernur Belanda yang sekarang dikenal dengan nama Gedung Agung, di depan Benteng Vredeburg Lokasi itu berada di ujung jalan Malioboro, tak jauh dari Keraton Yogya. Bahkan, kehadiran Bung Karno dan keluarga, menjadi concern Sri Sultan Hamengku Buwono DC, Raja Yogya yang begitu besar wibawa dan pengaruhnya Bagaimana dengan Bung Hatta?la menempati gedung di samping Gedung Agung yang sekarang menjadi markas Korem 072/Pamungkas, atau seberang Pegadaian, tak jauh dari kantor polisi Ngupasan.

Dari sisi lokasi, tempat Bung Karno dan Bung Hatta hanya terpisah jalan Dari hitungan jarak, lokasi tempat tinggal dwitunggal itu hanya belasan meter saja Kota Yogyakarta kemudian menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia yang belum genap setahun berdiri. Pemerintahan dijalankan dengan penuh improvisasi. Dalam hal dukungan logistik, tak bisa dipungkiri, Sri Sultan Hamengku Buwono IX atas nama rakyat dan pihak Kerajaan Yogyakarta, berperan banyak. Sri Sultan HB IX, juga dikenal sebagai penyokong proklamasi yang gigih. la mempertaruhkan banyak hal untuk berdiri tegak di belakang Sukarno-Hatta dan Republik Indonesia Kota Yogyakarta, pada awal tahun 1946, hanya berkisar 170. 000 jiwa, namun tak lama setelah Ibukota Negara pindah dari Jakarta ke Yogyakarta, kota budaya ini pun tumbuh pesat. Dalam kurun beberapa minggu, jumlah penduduk Yogyakarta menjadi sekitar 600. 000 jiwa Salah satu pengandil penambahan penduduk yang begitu pesat adalah 38. Di Gedung Agung Yogya, . . perpindahan semua badan dan lembaga negara beserta para pejabat dan pegawainya.

Para menteri dan pejabat tinggi, rela tinggal menumpang di rumah-rumah penduduk Yang ini, kisah Bung Karno di Gedung Agung, atau biasa disebut Istana Yogyakarta. Kompleks Bangunan megah ini terdiri atas enam bangunan utama, yang sekarang kita kenal dengan nama-nama: Gedung Agung, Wisma Negara, Wisma Indraprasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretewu, dan Wisma Saptapratala. Adapun ruang utama, dinamakan Ruang Garuda, biasa digunakan untuk menyambut tamu negara.

Di bagian depan sisi kanan gedung utama terdapat Ruang Soedirman. Sejarahnya, dulu di tempat inilah Panglima Besar Soedirman berangkulan untuk pamit kepada Presiden Sukarno ketika hendak menjalankan aksi perang gerilya. Suatu upaya untuk menunjukkan eksistensi NEGARA REPUBLIK INDONESIA yang telah merdeka, dan tidak sudi dijajah kembali. Di bagian depan sebelah kiri, ada Ruang Diponegoro, pangeran yang pernah melakukan perlawanan gigih terhadap Belanda. Kini, kedua ruang itu digunakan sebagai ruang tunggu tamu .

Pada waktu persiapan menghadapi agresi Belanda yang pertama, di halaman Istana sering dipakai latihan baris-berbaris pasukan pengawal presiden. Sementara para pengawal berlatih baris-berbaris, Bung Karno biasanya berlari-lari pagi memutari para pengawalnya yang sedang berlatih baris-berbaris dan ilmu ketangkasan. Sementara, Ibu Fatmawati bermain bola keranjang bersama para pengawal sambil mengasuh Guntur Yang menarik, Bung Karno sebagai "tukang insinyur"tercatat sempat merancang sebuah kolam ikan di halaman samping ruang tempat Bung Karno biasa memberi kursus politik kepada para wanita, remaja putri, mahasiswi, dan pelajar putri. Ruang itu sampai sekarang masih ada, dan sering dijadikan tempat pertunjukan kesenian kalau ada tamu negara. Bahkan, kolam ikan dan taman karya Bung Karno pun masih utuh dan terawat hingga hari ini.

***
DARI BUKU:
ROSO DARAS: “ TOTAL BUNG KARNO Serpihan Sejarah yangTercecer “
[BELILAH BUKU ASLI]
Penerbit Imania
Ki Town House Blok H
Jl. Raya Limo, Depok 16515
Telp (021) 753 1711, Faks. (021) 753 1711
E-mail:etera_imania@yahoo. com
Website:www. pustakaiman. com
Didistribusikan oleh Mizan Media Utama (MMU)
Jl Cinambo (Cisaranten Wetan) No. 146
Ujungberung, Bandung 40294
Telp. (022) 781 5500, Fax. (022) 780 2288
E-mail:mizanmu@bdg. centrin. net. id