KERITIK KEROTOK KERETEK

[Mengapresiasi Problem Aliran-Aliran Sesat di Indonesia]

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Tentang arti kata kritik, tentu anda sudah tahu, dan terlalu berlebihan kalau saya menjelaskannya di sini.

Kalau kerotok, itu adalah sejenis art equipment, peralatan dalam budaya Sasak Lombok berbentuk lonceng yang terbuat dari kayu. Jika kecil, ia digunakan sebagai pengganti genta untuk menandai keberadaan binatang piaraan seperti sapi, kerbau dan kadang2 juga kuda dan kambing. Tapi kalau bentuknya besar, sampai ada yang sebesar bedug dengan berat melebihi 80 kg, ini dipakaikan pada sapi yang sedang dipakai dalam arena karapan. Semakin besar krotoknya semakin besar pula bunyinya sehingga bisa mendengung sampai puluhan kilo meter sebagai pemanggil penonton yang jauh-jauh.

Keretek itu dibaca dengan "e" seperti dalam kata sumpek. Artinya menggigit sesuatu sedikit demi sedikit dan biasanya diasosiasikan dengan anjing, kucing atau tikus yang menggigit benda-benda yang keras.

Shahabat Rasulullah Sa'iid ibnu Aamir Al-Jumahi adalah seorang yang terkenal pemberani dan tanpa tedeng aling-aling. Ketika Umar bin Khattab telah bertugas sebagai khalifah, Sa'id bin Amir menunjuk mukanya sambil memberikan kritik pedasnya: "Wahai Umar jika engkau mengurus masalah manusia maka hendaklah engkau takut kepada Allah, tapi janganlah engkau takut kepada manusia jika engkau mengerjakan urusan Allah".

Umar bin Khattab kemudian menjawab Said dengan ucapan: "Wahai Said, siapakah gerangan yang akan mampu menunaikan kritikmu itu?" Sa'id membalas: "Kamu harus mampu wahai Umar karena itulah tugasmu".

Suatu hari pada hari Jum'at setelah sholat selesai, di Masjidunnabawy, Umar berdiri dan membuat pernyataan bahwa beliau menunjuk Sa'id bin Aamir sang pemberani untuk menjadi Gubernur di Hims. Hims adalah wilayah kekuasaan Islam yang terkenal sangat rumit karena setiap pergantian dinasti selalu dikuasai oleh penguasa-penguasa yang lalim sehingga prilaku masyarakatnya sangat penuh kecurigaan. Said dengan keras menolak, namun Umar menjawab: "Orang yang hanya bisa mengeritik namun menolak mengambil bagian dalam kerja, sesungguhnya tidak memiliki kepantasan untuk berkata-kata". Sa'id akhirnya menerima penunjukan itu.

Dua tahun setelah pemerintahan Said bin aamir sebagaii gubernur Hims, datanglah utusan masyarakat hims yang kecewa karena masih banyak anggota masyarakat yang miskin; juga ada perbuatan Gubernur said yang tidak disukai yaitu (1) tidak mau menemui masyarakat yang berkunjung malam hari, (2) Beliau mendatangi masjid hanya menjelang iqamah subuh, (3) Sekali dalam satu bulan, Said menghilang tanpa diketahui kemana perginya dan (4) kesehatannya tergannggu seperti ayan karena sering kali pingsan secara mendadak.

Karena merasa bertanggung jawab atas penunjukan Said bin Aamir, maka Umar memerintahkan agar utusan masyarakat Hims membuat daftar orang-orang miskin di Hims untuk selanjutnya akan diberikan bantuan keuangan oleh khalifah dari Madinah. Tetapi betapa terperanjatnya Umar bin Khattab karena ternyata di dalam daftar orang-orang miskin itu, nama Said tercantum pada deretan teratas. Dia benar-benar termasuk masyarakat Hims yang sangat miskin. Umarpun memutuskan untuk datang langsung mengunjungi Said, shahabat Rasulullah yang telah dia tunjuk menjadi Gubernur.

Pendek cerita, setelah berada di masjid Hims, Umar menanyai Said dihadapan rakyatnya tentang empat (4) hal yang dia lakukan dan tdak disukai oleh rakyatnya.

Inilah jawaban Said bin Aamir: "Wahai Umar, kalau saja saya tidak mengeritikmu dahulu tentu aku tidak mau menerima penugasan olehmu. Dan kalau saja tidak karena kesediaanku untuk patuh kepadamu tentu aku tidak ingin menjawab pertanyaanmu". Namun masyarakat yang berjubel di masjid tetap meminta Said menjawab pertanyaan Khalifah. Maka jawabnya adalah:

1. Sepenuh siang, aku menyerahkan seluruh waktuku untuk masyarakat; dan malam hari keperuntukkan untuk Tuhanku;

2. Aku tidak punya pembantu dan istriku sudah tua, maka akulah yang membuat roti dan menyiapkan seluruh keperluan rumah tanggaku, maka aku tidak bisa sesegera mungkin ke masjid di waktu subuh;

3. Sekali dalam sebulan, aku mengumpulkan seluruh pakaian kami sekeluarga, mengambil air ditempat yang jauh dan mencuci serta menjemurnya untuk dipakai satu bulan berukutnya; dan

4. Bagaimanapun aku menahan diri, namun aku selalu pingsan apabila mengingat
peristiwa ketika Kaum jahiliyyah Qurays menyiksa, merobek-robek, menusuk dengan pedang dan tombak keluarga Ammar bin Yasir sampai mereka terbunuh. Aku pingsan karena membayangkan bahwa saat itu aku adalah seorang pemuda kuat, kaya dan ditakuti namun aku tidak memberikan bantuan kepada keluarga Ammar, karena saat itu aku masih kafir.

Umar bin Khattab dan khalayak ramai sepakat untuk memaafkan Said atas kekurangannya itu dan tidak ingin menuntut lebih dari yang telah diberikannya.

Sesungguhnya keritik jika dilakukan dengan benar, oleh orang yang bertanggung jawab pastilah akan mendatangkan kebaikan. Dan para pendahulu kita yang mulia telah memberikan contoh bagaimana keritik memainkan perannya dalam pembangunan peradaban yang kehebatannya diakui oleh sejarah.

Di zaman sekarang ini, tentu saja kepentingan kita pada keritik akan lebih besar lagi dan yang tidak kalah pentingnya adalah keritik yang tidak kerotok, tidak diumbar seperti virus komputer atau iklan-iklan porno yang semakin disimak semakin meningkatkan nafsu ammarah sembari melupakan tujuan utama yaitu perbaikan pelaksanaan tugas sehingga manfaatlah yang di dapat bukan saling hujat menghujat.

Pedas dan halusnya keritik sama sekali tidak menjadi persoalan selama yang memberikan kritiknya didasarkan atas niat tulusnya dan pengetahuan yang mendalam pada perkara yang dikeritiknya. Sebab kalau cuma melontarkan kekurangan tanpa pengetahuan yang layak, dilakukan dengan cara-cara yang semakin menjauhkan kita dari idealisasi, maka hal itu lebih pantas dinamakan "keretek" dus tidak lain sekedar cara lain merusak kredibilitas saudara sendiri. Itulah yang dimaksud memakan daging saudara sendiri.

Dalam kesempatan ini, saya ingin mengapresiasi trend di FDMN akhir-akhir ini yang mengkritik teramat pedas pada kinerja MUI dan para alim ulama kita, terkait dengan antisipasinya pada masalah Ahmadiyyah, Syiah dan berbagai faham menggegerkan lainnya. Kata dan kalimatnya sangat tajam menusuk langsung ke ulu hati, seakan mereka (MUI dan para ulama itu) tidak melakukan upaya positif apapun untuk meresponsnya. Ini jelas membabi buta dan cenderung kerotok atau keretek sifatnya.

Para pengeritik sungguh abai secara ilmiyyah dan psikologis sehingga melihat masalah ini seperti masalah sim salabim, seperti membuat pecel kangkung; sret sret sret, ulik ulik ulik lalu maem nyam nyam nyam.

Sungguh problema-problema tersebut adalah masalah ideologis yang telah bersublimasi dengan berbagai urusan serta berentang ratusan tahun dimana tangan-tangan jahil tidak sekedar yang bisa diraba dengan indra. Kalaupun para pengeritik tidak menyertakan solusi, hal itu masih bisa dimaklumi, mungkin masih dikatagorikan berniat mulia dengan inisiatif menunjukkan suatu kekurangan, yang siapa tahu, ada pihak lain yang tahu solusinya. Tapi jika kritikannya dilakukan bagai pendekar mabok mengayunkan pedang tajam ke arah yang tidak jelas maka hal ini akan mebawa akibat permasalah akan menjadi semakin rusak dan para perusak justru telah mendapatkan energi baru untuk lebih membuat kerusakan yang lebih parah pada ummat ini.

Mendirikan lembaga pendidikan Islam adalah salah satu upaya untuk membendung ekspansi paham-paham sesat di tanah air kita. Secara strategis upaya inilah yang paling menjanjikan dan bisa berjalan dengan damai, namun lagi-lagi lembaga-lembaga pendidikan, yang kita semua tahu, dibangun di atas kebersahajaan dan kemiskinan juga diharu biru oleh kerotok-kerotok dan keretek-keretek. Bukannya dibantu atau paling tidak jangan dihinakan.

Demikianlah. Saya sudah menyampaikan apa yang saya fikir baik. Semoga dapat diterima dengan baik pula.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 19 November 2013.

KITA SUDAH SAMPAI DIMANA?

Menyambut Tahun Baru Hijriah 1435 H: (3)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Kita, dalam hiruk pikuk dan bisingnya kehidupan ini perlu melakukan refleksi didalam kesunyian jiwa, membuat pengembaraan spiritual sebagaimana Hayy Ibn Yaqzon dalam karya sastra philosofi-nya Ibnu Tufail. Untuk suatu saat tertentu, kita mesti membubarkan dunia ini dengan segenap isinya karena puzzle-puzzlenya sudah tidak presisi lagi. Seperti bocah lugu yang hendak memulai lagi menata permainan "bongkar pasangnya".

Pergantian siang dan malam yang menumpuk membentuk hari, minggu, bulan dan tahun tidak boleh dibiarkan terserak begitu saja melahirkan silang sengkarut sejarah kita. Ia mesti ditata kembali agar menjadi seuntai kisah indah yang kelak akan kita persembahkan kepada Sang Pencipta.

Pergantian siang dan malam itu memang diciptakan agar menjadi panduan bagi kita dalam melakukan perhitungan, muhasabah atau kalkulasi untung rugi perniagaan hidup "LITA'LAMUU 'ADADASSINIINA WAL HISAAB" [QS. Yunus: 5]

Refleksi itu ibarat pesta spiritual, agar dengan mata bathin yang bening dapat melihat bekas-bekas jejak telapak kaki kita di atas tanah, debu dan pasir kehidupan ini. Refleksi adalah peristiwa khusyuk buatan kita sendiri untuk memahami bagaimana keheningan malam menghadirkan ketentraman, bagaimana sinar terang menghapus kegelapan malam dan bagaimana pula siang dibentangkan bagai lembaran luas tempat kita melukis dan mengukir prestasi. Akhirnya sebagaimana Hayy ibn Yaqzon dan Absal menemukan puncak ekstase-nya setelah sampai pada suatu kesimpulan bahwa di dunia ini (1) setiap makhluk memiliki fungsi dan keistimewaannya sendiri serta (2) dibekali oleh Penciptanya dengan potensi sukses yang adil sehingga dengan dada tegak membusung meninggalkan pulau permenungan untuk kembali merajut lembaran kain sejarah dengan optimisme yang bulat. [QS. Al-Isro':12]

Muharram tahun ini, 1435 H kembali datang untuk mengajak kita duduk,tenang tafakkur. Lepaskan pandangan jauh kekaki lazuardi sejarah peradaban Islam yang telah mengalami dua periodisasi besar "Kebangkitan dan Kemunduran". Masing2 periode berentang 700 tahun dan kini kita telah sampai pada ratusan yang 15 sehingga banyak orang menyebutnya Abad ke 15 Hijriah adalah abad kebangkitan kembali. Kita sudah menghabiskan 35 tahun dari abad kebangkitan itu, maka mari tafakkur saat ini dengan sebuah pertanya awal: "KITA SUDAH SAMPAI DIMANA?"

SCENE 1
Muhammad s.a.w. lahir pada sebuah tahun yang diberi nama TAHUN GAJAH. Pada tahun itulah tepatnya 15 Muharram Pasukan bergajah Abrahah dilumat oleh Ababil laiknya pucuk daun-daun muda yang dimakan ulat. Inilah sebuah tonggak dimana PERADABAN GAJAH yang mengandalkan kebesaran dan kekuatan fisik ditutup-buku-kan. Lembaran sejarah yang mengandalkan Iman, ilmu dan amal -pun dimulai.

Kekuatan dan kedahsyatan, sejak saat itu tidak lagi bisa dimanipulasi melalui tampilan besarnya bentuk dan volume tetapi pada kepadatan energi yang tersimpan di dalam sesuatu. Saat ini setelah 15 abad dari saat itu, dunia sudah memasuki abad Nuklir, abad nano-teknologi. Bintangnya bukan lagi raksasa mammouth tapi butiran tak terlihat "Mitsqoola Zarrotin".

SCENE 2
16 Muharram tahun 2 Hijrah, nelangsa bathin Muhammad s.a.w dan para sahabat beliau sudah mencapai puncaknya. Tenaga sudah nyaris terkuras, air mata sudah mendekati titik keringnya dan juntaian tangan-tangan memanjat langit sudah hampir jatuh terkulai, turunlah firman:

" Hai Muhammad KUsaksikan wajah-wajah kalian sudah teramat memelas mendongak langit, memohon energy hidup yang baru dan segar. Mulai saat ini KUperintahkan hadapkan wajahmu ke Ka'bah. Itulah qiblatmu yang baru" (QS. Al-Baqarah: 144)

Gabungan ilmu-ilmu filsafat, astronomy, geology, antropolgy, matematika dan sosiology serta sejarah menyimpulkan secara empiris bahwa Sacred Geometry itu memang fakta adanya. Sacred Geometry adalah titik-titik dibumi yang terkoneksi antara yang satu dengan lainnya melalui tarikan garis-garis lurus, berjumlah 188 buah titik dengan sebuah sentral yang membjadi sumbunya. Setiap peradaban memiliki pusat energinya sendiri, tanpa itu dia akan tertelan oleh pasir-hisap kehidupan. Di atas titik sumbu itu ditandai dengan sebuah bangunan abadi.

Peradaban Bangsa Maya berpusat di Kuil Aztec, Peradaban Fir'aun di Piramida Giza, Peradaban Babilonia dengan Istana gantungnya, Peradaban Persia dengan Istana 100 tiang di Persepolis, Peradaban Yahudi dengan Menara David dan Nasrani dengan Gereja Bunda Maria, keduanya di Yerussalem.

Islam sebagai peradaban baru yang dipersiapkan kelahirannya, harus juga memiliki sendiri Sacred Geometrinya. Itulah Makkatul Mukarramah yang ditandai dengan bangunan Ka'bah. Semua bangunan peradaban sebelumnya berbentuk piramida dan obelisk, besar di bawah dan lancip diatas. Seakan menandakan ada seseorang yang menduduki pemuncak kekuasaan dan secara hirarkis kebawah ditopang oleh semakin banyak orang. Itulah peradaban yang menganut paham penghambaan manusia atas manusia.

Nampak jelas bahwa Islam berbeda; bentuk Ka'bah persegi empat dengan tembok yang tegak lurus dan tidak berbeda puncak tertinggi dengan fondasi paling bawahnya. Inilah peradaban yang menganut kesetaraan martabat kemanusia. Pembedanya hanya derajat tinggi dan rendahnya ketakwaan. Tidak menganut philosofy penghambaan manusia oleh manusia.

SCENE 3
Bulan Muharram tanggal 25 tahun 14 Hijrah, tepatnya tiga bulan setelah perang Yarmuk dibawah Khalid Bin Walid, terjadilah Pertempuran Qadisiyyah yang dipimpin oleh komandan Saad bin Abi Waqqash. Itulah titik akhir dua peradaban besar Romawi dan Persia. Khalid menuntaskan Pasukan Romawi, Heraklius di Yarmuk sedangkan Saad menyelesaikan Dinasti Kisra, Yazdagir III. Dalam kalender Gregorian/Masehi tahun itu adalah tahun 636, sebuah kombinasi angka yang bisa saling saling membagi habis diantara mereka.

Sejak Muharram 14 Hijrah itulah panji Islam menyeruak membahana mengisi dunia dengan sebuah peradaban baru, peradaban kesetaraan antar manusia, keadilan bagi laki dan perempuan serta perimbangan antara duniawi dan ukhrawi. 1,421 tahun sudah berlalu, peristiwa herois Yarmuk dan Qadisiyyah itu, kini Muharram tahun 1435 ini kita perlu mengangkatnya kembali, membersihkannya dari lumpur-lumpur keterpurukan kita.

Tentu kita merindukan sebuah snapshoot yang ditulis oleh Barnaby Rogerson tentang catatan harian seorang pendeta yang mengisahkan bahwa ketika Pasukan Saad bin Abi Waqqas menyebrangi Sungai Eufrat . . ." disisi sungai itu pasukan muslim telah disambut meriah oleh rakyat yang sudah lama tersiksa oleh dinasti Romawi dan Persia. Mereka yakin dan berteriak teriak Divana ... divana ... divana [malaikat] mengelu-elukan pasukan yang akan menyelamatkan mereka".

SCENE 4
Pada pertengah tahun 1492 Masehi, bersinggungan dengan tahun 898 Hijriah, Raja Ferdinand V mengepung Granada selama tujuh bulan. Ia berhasil menguasai kota Malaga –kota pelabuhan terkuat di Andalusia, lalu Guadix dan Almunicar, Baranicar, dan Almeria. Basis kerajaan Bani Ahmar, Granada, pun akhirnya tunduk, tepatnya tepatnya pada Bulan Muharram 897 H. Khalifah Abu Abdullah menyatakan menyerah. Namun Raja Ferdinan ingin membuat sebuah momentum, maka serah terima dilakukan pada tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Kota Granada diserahkan oleh Abu Abdillah di halaman Istana Alhambra. Istana merah semerah pita sejarah yang melilit di atas dahi Ummat Islam.

SCENE 5 dst!
KINI Muharram sudah datang lagi ...tulisan, gambaran dan ukiran seperti apa yang hendak kita buat di atas halaman sejarah kita yang membentang di hadapan mata?

Hari ini, kami di Nurul Haramain kedatangan seorang tamu yang tidak biasa, beliau adalah Prof Dr. Azyumardi Azra. Beliau adalah salah satu ilmuwan yang dianggap naif karena berkeyakinan bahwa Panji kejayaan Islam akan dimulai dari Nusantara. Kenaifan itu karena melihat kondisi Muslim Nusantara, terlebih Indonesia sepertinya gelap dan tidak menjanjikan.

Buku di tangan saya ada buku yang berjudul The Diary of Dajjal, karya Noreaga & Achernahr, Phoenix Publishing Project, buku itu memuat Sacred Geometry dan daftar 188 titik pusat energy peradaban dajjal. Saya angkat rangka-rangka yang terbentuk oleh garis-garis saling silang bersinggungan yang membentuk 188 potongan2 itu, lalu saya letakkan titik pusatnya di Makkah . . .Ternyata sebuah garis diagonalpun tepat berada diatas Ka'bah dan membentang melintasi Samudra Passai, Palembang, Demak dan Lombok. Subhaanallah. apakah ini kebetulan saja? Saya ragu.

Akhirnya saya I-pad dan membuka Google Map untuk mencari posisi Qiblat. Dari Makkah ke Indonesia muncul pemberitahuan arah South East, sedangkan dengan posisi terbalik dari Lombok Ke Ka'bah muncul pemberitahuan arah North West. Ahh gumam saya semakin ingin tahu .

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 3 Muharram 1435 H / 8 November 2013 M

KEBOLAK - KEBALIK

Menyambut Tahun Baru Hijriah 1435 H: (2)

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Konon, kata "debat kusir" itu muncul dari buah pengalaman KH. Agus Salim, ketika suatu hari naik pedati dan kudanya kentut. Beliau lalu mengatakan: Oh kuda ini masuk angin!. Tapi si kusir malah mendebat dengan mengatakan: Bapak salah, yang benar adalah kuda tadi keluar-angin. Ayak ayak waee.

Saya belum pernah membaca bahasan tentang mengapa tabiat Bahasa Indonesia [bukan Melayu] sering terbalik dalam pembentukan sebua idiomatik seperti "sepak bola, pulang pergi, siang malam, ibu bapak atau telur ayam". Idiom "pulang-pergi" yang seharusnya PERGI-PUPALANG karena tidaklah mungkin seseorang melakukan perpulangan jika sebelumnya nggak pernah pergi.

Seorang kawan pemakai Bahasa Melayu melihat kasus itu sebagai suatu kelucuan, persis seperti kita mendengar kata "BOLA SEPAK" dengan pendengaran yang tidak kurang pula lucunya. Secara kebahasaan tentu pembentukan itu dimulai dari objek dahulu baru kata kerja karena tidaklah mungkin manusia melakukan sepak menyepak di dalam ruang hampa. Bola sepak lebih tepat. Ada seorang jamaah, ex pegawai kereta api mendebat saya tentang hal itu. Kata dia: Keliru kalau mendahulukan kata benda baru kemudian kata kerja seperti bola-sepak itu. Contohnya di dalam kereta ada gerbong khusus yang disiapkan untuk menjadi restoran atau ruang makan. "Gerbong makan" adalah nama resminya. Nah, mana mungkin memberinya nama dengan "Makan gerbong". Ha ha ha sekuat apapun dalil kita namun orang Indonesia tetap saja akan mengatakan " SEPAK BOLAAAAAAAAAAAAAAAA!!!".

Tradisi dan kesukaan, itulah alasan mengapa kita mengatakan "terima kasih" karena kebiasaan kita manusia ini akan mau mengasih setelah kita menerima. Malah lebih sering terjadi orang hanya suka menerima tapi lupa mengasih. Secara logika kebahasaan yang benar tentu "kasih terima". Apalagi kalau mau pakai takaran etika.

Beda dengan "Simpan Pinjam", di sini bahasa Indonesia bisa akurat dan tepat guna karena ketidak mungkinan kita meminjam uang dari bank atau koperasi jika tak ada seorangpun yang menyimpan uangnya di sana. Jadi, jika ada orang yang hanya tahunya meminjam tanpa menyimpan, sebenarnya dia adalah pembunuh koperasi. Ini yang banyak khan? Sebenarnya ada ikutan yang lebih aneh daripada itu, kali ini bukan pembalikan kata yang terjadi tapi PEMBALIKAN MAKNA DAN MISSI BAHASA: Betapa sulitnya kita meminjam uang dari bank karena para pegawai bank mungkin merasa uang yang dipinjamkan itu adalah uangnya sendiri. Mereka sering kali lupa bahwa mereka ada disitu tugasnya adalah untuk meminjamkan uang yang disimpan oleh orang. Peristiwa2 ironi seperti ini dalam khazanah orang Sasak diistilahkan dengan "kebalik-jungkli".

Kita ambil satu kasus lagi, idiom "Ibu bapak-kah yang benar atau ayah ibu?. Kata teman saya yang feminis: Ibu bapak dong, sebab mana mungkin bapak bisa melahirkan anak? He he tentu kita tidak perlu mendebat kawan ini karena yang dia perlukan adalah belajar biologi genetika dan atau setidaknya dia kembali kepada kisah penciptaan Adam baru Hawwa. Kasus ini sama dengan idiom siang-malam. Hanya karena lidah kita lebih terbiasa menyebutkan siang terlebih dahulu sehingga mengatakan malam-siang menjadi berasa aneh. Begitulah akibatnya ketika interes dikedepankan dalam perdebatan, maka hasilnya akan semakin ngaco.

Di dalam ilmu tafsir ada sebentuk metodologi yang disebut "At-Tafsir Bil Munaasabah". Contohnya Allah SWT. bersumpah dengan malam terlebih dahulu baru dengan siang (QS. AL-Lail): [ Wallaili idza yagsya ... Wannahaari idza tajalla = Demi malam ketika gelap gulita dan demi siang ketika dia menyembul]. Itu maknanya bahwa bahwa malam lebih dahulu diciptakan barulah siang. Logika juga akan memperkuat bahwa mana mungkin sesuatu itu menyembul kalau bukan dari sesuatu yang terlebih dahulu ada?

Dr Colin Freeman, dari Departemen Teknik Material Universitas Sheffield, memimpin sebuah penelitian biologi dengan menggunakan alat bantu Komputer HEKtoR. Mereka menemukan bahwa di dalam sebuah telur ada sebentuk Protein yang disebut ovocledidin-17, atau OC-17 yang berfungsi sebagai katalis untuk mempercepat pengembangan kulit telur. Tanpa protein itu mustahil kulit telur bisa terbentuk. Jadi tidak ada telur kalau tanpa oc-17 terlebih dahulu. OC-17 hanya dimiliki oleh ayam, maka dengan demikian perdebatan selama ini "lebih dahulu ayam atau telur?" seharusnya sudah dihentikan.

Tapi manusia memang makhluk pendebat, tak ada yang tidak didebatnya. Begitu yang terjadi terus menerus alias Bussines As Usual, sering disingkat BAU karena debat itu lebih sering terjadi karena adanya "sesuatu" yang tidak diketahui. Tapi kalau untuk sekedar obat pelipur kantuk tak apalah.

Ada satu yang cukup penting, yaitu perdebatan tentang Tri-logi IMAN - ILMU dan AMAL. Perkara ini sebenarnya tidak pantas menjadi arena debat sebab ketiga-tiganya berada pada ranah yang berbeda-beda. Iman itu transenden, meta fisik; Ilmu berkaitan dengan logika dan amal urusan praktis pragmatis. Proses penjenjangan Tri-logi itu hanya terjadi ketika seseorang berkeinginan untuk membentuk kepribadiannya dalam bentuk yang paling ideal di atas tri-logi tersebut. Disini bimbingannya jelas, Al-Qur'an, ayat 11: Disana disebutkan bahwa tingkat idealitas seseorang itu secara hirarkis dimulai dari Keberadaan imannya kemudian ketinggian keilmuawannya dan penilaian akhir ada pada ikhtiar dia secara sadar untuk berbuat berdasarkan iman dan ilmunya itu. Sama sekali BUKAN KEBETULAN kalau ayat itu terletak pada surat Al-Mujaadalah yang berarti PERDEBATAN. Mungkin terkandung maksud agar perdebatan semacam ini dihentikan saja.

***INI AYATNYA:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا قِيلَ انشُزُوا فَانشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 2 Muharram 1435 H
7 Nopember 2013

(BUKAN) KEBETULAN

Menyambut 1 Muharram 1435 H

Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ada banyak kemungkinan ketika seseorang menggunakan ungkapan "kebetulan .... ": (1) memang tidak tahu sama sekali, (2) menghindari pelik-pelik rahasia penciptaan atau (3) untuk menghindari perpanjangan komentar, sebab sedikit sekali kuping2 modern 'sanggup mendengar kebenaran yang disampaikan secara panjang lebar'. Budaya twitter yang sekedar secuil kicauan sudah dianggap terlalu cukup, padahal berita yang tidak lengkap sering kali menyesatkan.

Termasuk cerdas jika tujuannya adalah menghindari terjadinya puncak mood dimana seseorang bisa-bisa melampaui takaran kemampuan daya fikirnya dan akhirnya psikologisnya bisa jebol lalu melahirkan sejenis bipolar-disorder. Seperti juga fisik ketika dipaksakan bekerja melampaui kapasitasnya bisa terjadi over-trainning dan akhirnya lunglai alias lettoy.

Rasulullah juga telah mengingatkan agar manusia tidak memikirkan sesuatu yang berada diluar kemampuannya. Khususnya perkara zat Tuhan. Tak pernah ada yang berhasil kecuali berujung pada bipolar-disorder. Lihat saja Van Goh yang berkhayal mampu melukis syurga. Fatal, diapun gila. Calon peraih Nobel matematika John Forbes Nash. Jr. yang hendak menghitung berbagai formula materi melalui rumus-rumus quantum matematika akhirnya juga gila. Kasus lain adalah Salah satu sastrawan Jepang yang paling berpengaruh di abad ke-20, Hiraoka Kimitake atau lebih terkenal dengan nama samarannya Yukio Mishima karena berkhayal dapat menaikkan semangat patriotisme Jepang untuk menjadi nomor satu didunia, maka hal itu berujung pada kegilaan dan bunuh diri [tepatnya menyuruh murid-muridnya untuk membunuhnya].

Haqiqinya, tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini, semua sudah melalui proses perancangan yang matang Oleh sang Pencipta yang maha Adil dan Bijaksana. Peran manusia setelah penciptaan adalah menyembah Allah dan melakukan ikhtiar didalam lingkaran kapasitasnya, Firman Allah:

"Kuluu wasyrobuu min rizqillah, walaa tusrifuu"
" Kuluu wasyrobuu min rizqillah, walaa ta'tsau fil ardli mufsidiin"

Secara ringkas kita tafsirkan...dan nikmatilah pemberia Allah tapi jangan berlebihan dan jangan melampaui BATASAN karena berakibat kalian AKAN MERUSAK.

Nah melampaui batasan itulah yang melahirkan dua garis ekstrim: Mereka yang terlalu mempermudah masalah sehingga terjerumus menjadi meremehkan akhirnya mereka mencapai prestasi-prestasi diremehkan manusia. Di sisi lain adalah mereka yang terlalu memaksakan diri, ya itulah ashaabul junuun macam Johan Ritchie, Kurt Cobain, Michael Hutchence, Richey James Edward atau Sylvia Plath. Selain penggila2 yang tersebut sebelumnya.

Jika kehidupan ini dianalogikan dengan permainan sepak bola, maka kotak segi empat berukuran lebar 45 atau maksimal 90 meter dan panjang 90, 110 atau 120 meter adalah batasan2 vissiblenya. Para pemain tetap bisa bermain di dalam areal yang disepakati ADANYA. Berapapun ukurannya. Bermain dalam lapangan berukuran normal itulah yang melahirkan pemain2 top bernilai transfer diatas 40,000 pund sterling seperti Zidan, Ronaldo, Robinho, Messi dan Bale. Tak perlu keluar garis untuk menjadi yang terhebat.

Sejarah memang pernah mencatat sejenis permainan sepak bola di Yunani dengan panjang lapangan tak terbatas dan pemenangnya ditentukan dengan mendapatkan penendang paling akhir yang masih bisa berdiri dan mampu menendang bola. Permainan tanpa batasan itu bisa kita namakan saja Sepak Bola Liberal atau boleh juga Crazy-soccer. Produknya adalah GILA atau kematian.

Rekan dan sahabat FDMN yang saya hormati!

Hari ini kita memasuki tahun baru hijriah, inilah saat yang baik, sekali setahunan, untuk menakar kembali kiprah duniawi kita, apakah terlalu jauh dibawah nano-standar atau sudah keterlaluan dan menyodok-nyodok puncak kenormalan. Muhasabah namanya.

Setiap hari kita melakukan muhasabah dalam rentang pendek-pendek. lima kali. itulah sedikit penjelasn mengapa sholat dikatakan sebagai pencegah kekejian dan kemungkaran. Sekali Sejum'at kita berkumpul karena kita memang makhluk sosial, oleh karenanya dengan jum'atan itulah kita bisa mempertahan kesosialan kita. Maka janganlah ngantuk disaat khatib membaca khutbah ya? Jika anda menjadi khatib jangan pula menebarkan pil tidur kepada jamaah. Kasihan dong peradaban kita nggak maju-maju.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 1 Muharram 1435 H

Hasanain Juaini (CITATION AND RESPONSE)



CITATION
 
Islamic education is perceived by many, often in ignorance, as narrowly traditionalist and even reactionary.  What is ignored is that, over the past century, traditional Islamic schools have responded to modernizing influences in many positive ways.  This is shown in Indonesia where such changes are of enormous consequence—Indonesia is not only the world’s largest Muslim country, it is one where over fifty thousand Islamic schools are a major stream of the national educational system.
A sterling example of a modern, socially-innovative Islamic school is Nurul Haramain Putri Narmada in West Lombok, a peripheral region where a conservative Islam is dominant and deforestation and poverty are a major challenge.  A pesantren, the oldest type of school in Indonesia, Nurul Haramain was established in 1996 by a young, progressive Muslim cleric named Hasanain Juaini. The son of a religious teacher who ran a pesantren for boys, Hasanain opened his own pesantren after completing his university studies.
Against a tradition that reserves education for boys, Hasanain decided to open a girls’ school.  Starting with fifty girls, he evolved a learner-centered program aimed at developing each student’s full potential.  Now a pesantren of five hundred students and sixty teachers (half of them women), Hasanain’s school offers a government-accredited five-year secondary education program.  It is the first in Lombok to achieve 100 percent computer-based learning, where students are provided with personal computers and teaching assistants, even at night. While religion is at the core of its program, as in the traditional pesantren, the school is pluralist in orientation and stresses secular subjects like the sciences. Students are exposed to diverse learning opportunities, encouraged to think critically, and motivated to pursue higher studies.  It is not surprising that the school ranks No. 9 nationwide in university entrance examinations.  Yet Hasanain says, “To be No. 9 is not the target, but how we have developed all the capabilities of the student.”
It is not just academic excellence that makes Hasanain’s school a different kind of school.  Responding to criticism that boarding schools are “ivory towers” isolated from society, Hasanain has deliberately integrated school learning into the life of the community.  While the pesantren is traditionally controlled by a single teacher, Hasanain has built a model of community ownership through a membership system.  Moreover, he has turned his school into an axis for community development.  His integrated approach to education gets students and teachers involved in issues of environmental quality, livelihood enhancement, and good governance.
He initiated a social forestry project that involves the community in conserving the environment while increasing their household incomes.  The project has successfully reforested a once-barren thirty-one hectare tract through a scheme in which families, motivated by a grant of livestock for short-term needs, are allotted a hectare each for them to plant, nurture, and eventually harvest trees according to a clear business plan.  Hasanain further believes that schools have a role in promoting citizen participation in local governance. Thus, he organized representatives from 130 pesantrens in his district into a Coalition of Pesantrens against Corruption, to lobby for reforms and hold public officials accountable.  He has himself been a vocal advocate on issues pertaining to elections and the management of public funds.  In his combined roles as cleric, teacher, community worker, and social entrepreneur, Hasanain is a living example of the kind of education he preaches.
His modernizing innovations have been criticized by some.  But for Hasanain, there is no divide between teaching religion and calling public officials to account, or between running a school and getting the community to plant trees.  One who teaches by his work and not just by his words, Hasanain speaks of what he does in terms homely but wise: “Everything starts with a seed.” “Those who take must give.  It’s a big sin if you take and not give.”
In electing Hasanain Juaini to receive the 2011 Ramon Magsaysay Award, the board of trustees recognizes his holistic, community-based approach to pesantren education in Indonesia, creatively promoting values of gender equality, religious harmony, environmental preservation, individual achievement, and civic engagement among young students and their communities.



RESPONSE

Upon learning that I was selected for the Ramon Magsaysay Award, the first response that came to my mind was, “Oh, God! You just want me to work harder!  Oh my God! I thought I have already reached the limit of what I could have contributed.”
But after seeing that other Magsaysay awardees—previous and present—have done much greater work to deserve this honor, I feel myself to be way behind them. The gap could be as far as the distance between the earth and the sky.  Again, I asked myself, “What could this be?” Deep in my mind, I sincerely think that the late President Ramon Magsaysay, through the Award that he has inspired to exist, wants me to contribute more—following his footsteps in his patriotic struggles for the people of the world.
When at last the results of the Awards selection were to be officially announced, yet another question emerged: “Am I ready to accept this award?”  My gratitude to Allah that I have not reached the point of insanity to refuse the award, even though I think I do not deserve it. By the way, I am thankful that this is a sweet “mistake.” I promise that I will work harder to reach, in the future, that level of contribution expected of a Magsaysay awardee.
The future promises new opportunities and requires renewed vigor. This award has strengthened and energized me to reach my goals. Together let us unite and mutually extend our help to the people of the world so that in this era of globalization, we will live in a spirit of brotherhood.
With this opportunity, I am urging everyone to set President Magsaysay’s dedication to the world as our example. To me, he is now present and whispering to me, “If I, after my death, can still do this noble work, why shouldn’t you—who are still alive—be able to do better?”
To my children in Pondok Pesantren Nurul Haramain Putri (Nurul Haramain Girls’ Islamic Boarding School) in Narmada as well as all female students in Indonesia, this award is for all of you. Keep struggling and prove to the world that without the contributions of women, the pillars of the world will collapse. 
Terimah kasih.