Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Para sufis sering kali membuat orang-orang yang pendek fikir jatuh terjengkang dan menggigit lidah sendiri. Bayangkan nasehat ini: "Hindarkanlah dirimu dari nasehat". Bisa ditebak bahwa anasir nyeleneh kayak ginilah yang membuat para penganut mazhab pragmatis dan textual berteriak marah dan lantang: "Zindik, munafik, kafir de el el . . . kaum sufi itu". Nasihat itu inti agama, kok malah disuruh menghindarinya?
Saya tahu, membeli buku di lapak ruang tunggu pesawat adalah musibah, namun mampukah anda menahan penasaran ketika melihat judul sebuah buku: "PERSETAN DENGAN NASEHAT2 INDAH" Apalagi penulisnya adalah George Lois, penulis kawakan penerbit paling spektakuler, Phaidon?. Penerbit super kritis yang tidak sudi menerbitkan tulisan yang tidak bakal menjadi best seller.
$35.90 atau Rp. 394,900.- untuk sebuah buku berukuran kecil dengan hanya 125 halaman saja adalah harga yang kelewat mahal. Berulang kali saya lepas ambil, lepas ambil dan lepas ambil sambil meraba kantong untuk menebak sisa dollar di dalam kantong. Stimulus dari dalam amigdala saya menyemburkan sinyal dan masuk kedalam new-cortex kemudian merangkum sebuah tanda tanya: "Ada koneksitas macam apa antara para sufis dengan dunia materialistis? Bisa-bsanya statement mereka sama?". Di bagian bawah judul buku itu ada tulisan kecil di dalam kurung (For people with talent ! = maksudnya Buku ini diperuntukkan untuk mereka yang super berbakat)
... Oh saya mengerti sekarang, bahwa judul sebuah buku, sebelum dicetak haruslah melalui masa inkubasi yang cukup dengan melibatkan editor, psikolog, antropolog, philosof, ekonom sampai para seniman dengan segenap aliran-alirannya.
Saya harus beli buku ini, berapapun harganya karena tidak mungkin diriku ini akan menanggung sebentuk cibiran dan hinaan dari dalam diriku sendiri bahwa aku tidak punya TALEN !. Jadi apakah yang kubeli sebenarnya: Buku atau harga diri?
"Creativity can solve almost any problem" Itu baru lembar pertama. Clip-clip problema yang sulit dipecahkan kemudian berkelebat di kepala saya. "Nah ini jawabannya", teriak saya tapi tanpa suara, khawatir diketawain oleh para TKI yang menjejali ruang tunggu pesawat sambil memainkan hp-hp baru yang mereka bawa untuk jadi oleh-oleh di kampung halaman.
Selanjutnya.... ini... "Kreatifitas dapat menghancurkan halangan sampai tuntas" Wouw dan " Overcomes everything" ...terbayarlah sudah harga buku itu.
Saya tidak akan menceritakan bagaimana AirAsia dengan konsep ekonomi adds-onnya, menarik tarif-tarif tambahan baik dari kelebihan bagasi maupun aneka barang pernak-pernik yang ditaja dalam buku infligh magazinesnya.
Sesampai di Lombok, saya harus mengakali sisa uang untuk membeli oleh-oleh, tentu saja oleh-oleh favorit untuk bahan diskusi, buku. Saya segera meluncur ke Toko Buku Dunia Ilmu Ampenan dan dapat sebuah judul yang mirip "Kreativitas, jalan baru pendidikan Islam". Jelas sekali buku ini punya konektivitas sepenuhnya dengan buku mahal yang saya beli tadi di Bandara Sulthan Iskandarsyah, Kuala Lumpur. Bedanya harganya yang cuma Rp. 35,000.- alias $3 kurang. Inilah bukti kasus bahwa kemasan dan tempat menentukan harga.
Sebelum kaki menginjak halaman rumah, kedua buku itu sudah selesai saya baca dan amboooooy..baru saya sadari bahwa penulis buku kedua itu adalah seorang Professor, guru besar kelahiran asli Lombok HM. Taufik, di lembar terakhir diterakan alamat lengkap termasuk jalan, lorong, nomor hp dan e-mail sang penulis dengan bakat terpendam itu: Jln Semangka No 12, Sukaraja Timur, Ampenan. Hp. 08175790625, taufik_hm25@yahoo.com
Cling...! Sebuah message datang di Facebook, sebelum tulisan ini saya buat, dari Muhammad Safwan ada kiriman link menuju sebuah buku berjudul : Kejujuran Kunci kemakmuran NTB. Begitu selesai membacanya, langsung saya ketikkan replay: "Tolong kirimkan sepuluh eksemplar, harga dan ongkos antar saya bayar di tempat.
Kini fikiran saya sudah plong karena sedari seminggu lalu ketika membaca dua buku tentang kreativitas di atas, serasa ada yang tersisa dan belum terjawab, dan saat ini telah beres dan menjadi sebuah kesimpulan bulat "Kejujuran dan Kreativitas".
Randy Gage berkata: Mereka yang gagal adalah mereka yang tidak jujur pada dirinya sendiri sehingga mereka tidak mau membayar harga keinginannya dengan harga yang pantas. Elizabeth Gilbert dalam Eat, Pray & Love juga menegaskan bahwa seseorang harus bertanya kepada dirinya sebelum melakukan sesuatu :
1. "Betulkah aku ini mau?",
2. "Betulkah aku ini mau?",
3. "Betulkah aku ini mau?",
4. "Betulkah aku ini mau?",
5. "Betulkah aku ini mau?",
6 "Betulkah aku ini mau?",
7. "Betulkah aku ini mau?",
8. "Betulkah aku ini mau?",
9. "Betulkah aku ini mau?",
10. "Betulkah aku ini mau?", minimal sepuluh kali atau lebih banyak, lebih baik. Dan jawablah dengan jujur. Jika jawabannya "ya" maka yakinlah bahwa kreativitas akan muncul dengan sendirinya untuk mengantarkan anda meraih keinginan itu.
Epilog dari perjalanan saya 3 hari ke Malaysia itu adalah SATU, Faktanya mereka lebih maju; DUA sebuah refleksi betapa Rakyat Negara Tetangga kita itu lebih jujur dalam berkemauan dan mengerjakan kemauan mereka. Itulah yang melahirkan kreativitas, saling dukung dan saling hargai. Apalagi kalau diproyeksikan dengan keseharian masyarakat kita di NTB yang lebih banyak saling menghujat ketimbang saling menghargai, saling menyalahkan ketimbang saling memaafkan. Ada saja salah saudara yang terasa pantas untuk diobok-obok padahal belum tentu yang ngobok-obok lebih baik apalagi lebih berprestasi. Shadaqollahul Aziim.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 28 November 2013
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Para sufis sering kali membuat orang-orang yang pendek fikir jatuh terjengkang dan menggigit lidah sendiri. Bayangkan nasehat ini: "Hindarkanlah dirimu dari nasehat". Bisa ditebak bahwa anasir nyeleneh kayak ginilah yang membuat para penganut mazhab pragmatis dan textual berteriak marah dan lantang: "Zindik, munafik, kafir de el el . . . kaum sufi itu". Nasihat itu inti agama, kok malah disuruh menghindarinya?
Saya tahu, membeli buku di lapak ruang tunggu pesawat adalah musibah, namun mampukah anda menahan penasaran ketika melihat judul sebuah buku: "PERSETAN DENGAN NASEHAT2 INDAH" Apalagi penulisnya adalah George Lois, penulis kawakan penerbit paling spektakuler, Phaidon?. Penerbit super kritis yang tidak sudi menerbitkan tulisan yang tidak bakal menjadi best seller.
$35.90 atau Rp. 394,900.- untuk sebuah buku berukuran kecil dengan hanya 125 halaman saja adalah harga yang kelewat mahal. Berulang kali saya lepas ambil, lepas ambil dan lepas ambil sambil meraba kantong untuk menebak sisa dollar di dalam kantong. Stimulus dari dalam amigdala saya menyemburkan sinyal dan masuk kedalam new-cortex kemudian merangkum sebuah tanda tanya: "Ada koneksitas macam apa antara para sufis dengan dunia materialistis? Bisa-bsanya statement mereka sama?". Di bagian bawah judul buku itu ada tulisan kecil di dalam kurung (For people with talent ! = maksudnya Buku ini diperuntukkan untuk mereka yang super berbakat)
... Oh saya mengerti sekarang, bahwa judul sebuah buku, sebelum dicetak haruslah melalui masa inkubasi yang cukup dengan melibatkan editor, psikolog, antropolog, philosof, ekonom sampai para seniman dengan segenap aliran-alirannya.
Saya harus beli buku ini, berapapun harganya karena tidak mungkin diriku ini akan menanggung sebentuk cibiran dan hinaan dari dalam diriku sendiri bahwa aku tidak punya TALEN !. Jadi apakah yang kubeli sebenarnya: Buku atau harga diri?
"Creativity can solve almost any problem" Itu baru lembar pertama. Clip-clip problema yang sulit dipecahkan kemudian berkelebat di kepala saya. "Nah ini jawabannya", teriak saya tapi tanpa suara, khawatir diketawain oleh para TKI yang menjejali ruang tunggu pesawat sambil memainkan hp-hp baru yang mereka bawa untuk jadi oleh-oleh di kampung halaman.
Selanjutnya.... ini... "Kreatifitas dapat menghancurkan halangan sampai tuntas" Wouw dan " Overcomes everything" ...terbayarlah sudah harga buku itu.
Saya tidak akan menceritakan bagaimana AirAsia dengan konsep ekonomi adds-onnya, menarik tarif-tarif tambahan baik dari kelebihan bagasi maupun aneka barang pernak-pernik yang ditaja dalam buku infligh magazinesnya.
Sesampai di Lombok, saya harus mengakali sisa uang untuk membeli oleh-oleh, tentu saja oleh-oleh favorit untuk bahan diskusi, buku. Saya segera meluncur ke Toko Buku Dunia Ilmu Ampenan dan dapat sebuah judul yang mirip "Kreativitas, jalan baru pendidikan Islam". Jelas sekali buku ini punya konektivitas sepenuhnya dengan buku mahal yang saya beli tadi di Bandara Sulthan Iskandarsyah, Kuala Lumpur. Bedanya harganya yang cuma Rp. 35,000.- alias $3 kurang. Inilah bukti kasus bahwa kemasan dan tempat menentukan harga.
Sebelum kaki menginjak halaman rumah, kedua buku itu sudah selesai saya baca dan amboooooy..baru saya sadari bahwa penulis buku kedua itu adalah seorang Professor, guru besar kelahiran asli Lombok HM. Taufik, di lembar terakhir diterakan alamat lengkap termasuk jalan, lorong, nomor hp dan e-mail sang penulis dengan bakat terpendam itu: Jln Semangka No 12, Sukaraja Timur, Ampenan. Hp. 08175790625, taufik_hm25@yahoo.com
Cling...! Sebuah message datang di Facebook, sebelum tulisan ini saya buat, dari Muhammad Safwan ada kiriman link menuju sebuah buku berjudul : Kejujuran Kunci kemakmuran NTB. Begitu selesai membacanya, langsung saya ketikkan replay: "Tolong kirimkan sepuluh eksemplar, harga dan ongkos antar saya bayar di tempat.
Kini fikiran saya sudah plong karena sedari seminggu lalu ketika membaca dua buku tentang kreativitas di atas, serasa ada yang tersisa dan belum terjawab, dan saat ini telah beres dan menjadi sebuah kesimpulan bulat "Kejujuran dan Kreativitas".
Randy Gage berkata: Mereka yang gagal adalah mereka yang tidak jujur pada dirinya sendiri sehingga mereka tidak mau membayar harga keinginannya dengan harga yang pantas. Elizabeth Gilbert dalam Eat, Pray & Love juga menegaskan bahwa seseorang harus bertanya kepada dirinya sebelum melakukan sesuatu :
1. "Betulkah aku ini mau?",
2. "Betulkah aku ini mau?",
3. "Betulkah aku ini mau?",
4. "Betulkah aku ini mau?",
5. "Betulkah aku ini mau?",
6 "Betulkah aku ini mau?",
7. "Betulkah aku ini mau?",
8. "Betulkah aku ini mau?",
9. "Betulkah aku ini mau?",
10. "Betulkah aku ini mau?", minimal sepuluh kali atau lebih banyak, lebih baik. Dan jawablah dengan jujur. Jika jawabannya "ya" maka yakinlah bahwa kreativitas akan muncul dengan sendirinya untuk mengantarkan anda meraih keinginan itu.
Epilog dari perjalanan saya 3 hari ke Malaysia itu adalah SATU, Faktanya mereka lebih maju; DUA sebuah refleksi betapa Rakyat Negara Tetangga kita itu lebih jujur dalam berkemauan dan mengerjakan kemauan mereka. Itulah yang melahirkan kreativitas, saling dukung dan saling hargai. Apalagi kalau diproyeksikan dengan keseharian masyarakat kita di NTB yang lebih banyak saling menghujat ketimbang saling menghargai, saling menyalahkan ketimbang saling memaafkan. Ada saja salah saudara yang terasa pantas untuk diobok-obok padahal belum tentu yang ngobok-obok lebih baik apalagi lebih berprestasi. Shadaqollahul Aziim.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Narmada, 28 November 2013





![MALAYSIA SELAYANG PANDANG: 4
Ambil kira : Sarang Setan di Twin Tower
Bismillahirrahmanirrahim
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
"Ambil Kira" itu adalah peristilaahan Bahasa Melayu, yang jika dirunut padanannya bisa didapatkan pada seluruh bahasa, karena memang selalu ada unsur tak terjelaskan dalam dinamika hidup ini, oleh bahasa perbal kita. Rasulullah sering mangambil jalan pintas untk menjelaskan kepada para sahabat beliau tentang suatu perkara yang musykil dijelaskan dengan kata-kata; "Sal dlamiirok", tanya nuranimu. Orang Sasak Lombok juga punya istilah yang demikian " ilmu rak'i".
Se-sama-samanya bahasa Indonesia dengan Bahasa Melayu, namun dalam memilih ungkapan, kita harus mengunakan ilmu rak'i, karena banyak sekali fonem-fonem yang sama namun maknanya bertolak belakang i.e: BISA [racun, mampu], HARUS [boleh saja, wajib], JEMPUT [undang, bawa serta] ... sampai yang paling kontras adalah kata BUTUH yang dalam bahasa melayu berarti kemaluan lelaki padahal dalam bahasa Indonesia bermakna perlu. Maka ambil kira-lah ketika menggunakan bahasa Indonesia di depan saudara kita yang berbahasa Melayu.
Nah dalam lawatan saya kali ini, yang seperti biasanya pengunjung Malaysia lainnya, tentu tidak ingin melewatkan untuk memasuki sebuah keajaiban dunia modern di Kuala Lumpur yaitu Twin Tower atau Menara Kembar Petronas yang dalam struktus bahasa Melayu menjadi" Menara Berkembar".
Tak perlu saya membahas siapa Tatparanandam Ananda Krishnan (lahir 1938) seorang usahawan yang kedua terkaya di Malaysia dan menurut Forbes terkaya ke-138 di dunia. Pengusaha minyak, penternakan kuda bibit (di Australia), perjudian, studio kartun Hollywood, telekomunikasi, multimedia, perkapalan, tenaga, dan broker tanah inilah yang mula-mula membangun Menara kembar ini dan karena sesuatu 'entah apa maksudnya" dia meyakinkan Dr. Mahathir Muhammad agar Kerajaan Malaysia membeli gedung yang belum selesai itu dengan uang Petronas. Menara inipun akhirnya diselesaikan pembangunannya dan menjadi milik petronas yang menyandang namanya pula "Menara Berkembar Petronas".
Arsitek gedung ini adalah César Pelli dari Argentina dan memerlukan 7 tahun untuk menyelesaikan tugasnya [1981 - 1998]. Tentu saya bukan ahlinya untuk menganalisis sisi teknis dan material pembangunan gedung ini. Tapi ada sisi lain yang berkelebat dalam fikiran saya ketika memasuki lantai paling dasar di bawah tanah. Di sana ada Super Market Raksasa milik Penguasaha dari Jepang. Yang menurut fikiran saya memiliki nama SANGAT GANJIL " I-SETAN".
Tidak mungkin sebuah perusahaan besar tak memahami arti kata Setan dalam bahasa melayu dan tidak mungkin pula pengusaha professional akan TIDAK MENGAMBIL KIRA tradisi dan kultur melayu yang memahami kata setan sebagai musuh utama manusia [Innassyaithoona lakum 'Aduwwun Mubiin] dan lebih tidak mungkin pula kalau dikatakan bahwa tidak ada nama lain yang pantas selain nama SETAN itu.
Jika tambahan huruf "I" [dibaca ai] diperhatikan maka jawaban samar-samar mulai terlihat. Lebih-lebih ketika memperhatikan titik huruf "I" tidak diletakkan diatas hurufnya tetapi diposisikan pada margin puncaknya yang dengan tepat mengasosiasikan "mata satu" pada gambar piramida dalam lembaran uang kertas Dollar Amerika.
Saya ingat beberapa hari yang lalu saya telah menulis tentang The Diary of Dajjal yang menjelaskan tentang fakta adanya keyakinan tentang Sacred Geometry yang merupakan sebuah stratgegy Benteng Stelsell ala Freemasonry, bahwa ada 188 titik di bumi ini yang menjadi pusat-pusat energy dunia, dan jika ingin menguasai dunia maka titik itu harus dikuasai dan diletakkan gedung tinggi di atasnya. Saya yakin ancaman bom yang terjadi pada 12 September 2001, sehari selepas serangan 11 September meruntuhkan menara kembar World Trade Center di Raya New York adalah isyarat bahwa kecurigaan tersebut memang memiliki argumen yang kuat, sekalipun lebih bersifat metafisik. Jika Kishore Mahbubani mendiclare [dalam bukunya Asia The New Hemishfare] bahwa Superioritas Amerika akan berpindah ke Asia, maka keruntuhan WTC sudah tergantikan dengan telah berdirinya PTT, Petronas Twin tower.
Sungguh mencengangkan menyaksikan puluhan ribu orang yang keluar masuk Mall I-Setan, bahkan mereka rela antri panjang untuk berbelanja dan bergantian makan di restoran-restoran di dalamnya. Dalam hati saya bertanya adakah yang memiliki fikiran sama dengan saya dalam hal ini?
Karena tak ingin dibilang asal ngomong, maka saya sempatkan mengambil potho di depan Mall I-Setan itu untuk saya lampirkan dalam tulisan ini. Juga saya bermaksud agar pembaca tidak menuduh saya narsis. heem
Wallahushawab
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Kuala Lumpur 14 Nopember 2013.](https://fbcdn-sphotos-c-a.akamaihd.net/hphotos-ak-prn2/q79/s480x480/1424470_10201432849561004_84379836_n.jpg)